
BANGLI,jarrakposbali.com – Menjaga adat dan budaya tidak harus berhenti pada pelestarian tradisi. Lebih dari itu, kepedulian terhadap masyarakat juga perlu diwujudkan melalui upaya membuka wawasan, memperluas kesempatan, dan menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan kehidupan. Semangat inilah yang mengemuka dalam kegiatan megendu wirasa Yayasan Ksatria Kris Bali (YKKB) bersama tokoh masyarakat adat Banjar Lumbuan, Desa Adat Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, di Balai Banjar Lumbuan, Minggu (11/10/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekadar ajang memperkenalkan organisasi. Di balik suasana dialog yang berlangsung hangat, tersimpan pesan penting tentang bagaimana sebuah yayasan dapat membangun kedekatan dengan masyarakat adat sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan sosial dan ekonomi krama Bali.
Ketua Umum YKKB, I Ketut Ismayajaya alias Jro Bima, hadir bersama jajaran pengurus wilayah Bangli yang membidangi berbagai sektor. Dari unsur masyarakat, kegiatan ini dihadiri para kelian banjar adat dan bendesa adat se-Kecamatan Susut, Perbekel Sulahan, serta Ketua dan Sekretaris Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Susut.
Kehadiran para tokoh tersebut menjadi ruang pertemuan yang strategis. Adat sebagai fondasi kehidupan masyarakat Bali dipertemukan dengan gagasan pengembangan sumber daya manusia, pertanian, dan dunia kerja yang semakin dinamis.
Dalam pemaparannya, Jro Bima memperkenalkan keberadaan YKKB beserta arah kegiatan dan perhatian yayasan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Penjelasan tersebut kemudian dilanjutkan oleh pengurus dari masing-masing sektor, mulai dari adat istiadat dan kebudayaan, pertanian dalam arti luas, hingga dunia kerja.
Ketiga sektor ini memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Pelestarian adat dan budaya menjaga jati diri, penguatan sektor pertanian menopang kehidupan ekonomi, sedangkan pemahaman terhadap dunia kerja membuka jalan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Namun, perhatian peserta tampak semakin besar ketika pembahasan memasuki sektor ketenagakerjaan, khususnya peluang bekerja di kapal pesiar.
Di tengah kebutuhan masyarakat akan informasi pekerjaan yang lebih luas, kesempatan kerja di kapal pesiar menjadi salah satu topik yang menarik perhatian. Bukan hanya soal peluang mendapatkan penghasilan, tetapi juga mengenai kesiapan diri, keterampilan, dan pemahaman terhadap mekanisme perekrutan sebelum memasuki dunia kerja internasional.
Dari YKKB, Dewa Nyoman Budiasa memaparkan berbagai hal terkait peluang kerja di kapal pesiar. Ia menjelaskan mekanisme dan sistem yang perlu dipahami calon pekerja, sekaligus menekankan pentingnya kesiapan keterampilan atau skill sebagai bekal memasuki industri tersebut.
Pesan yang disampaikan menjadi penting karena peluang kerja di luar negeri tidak cukup hanya bermodalkan keinginan. Calon pekerja perlu mempersiapkan kemampuan, memahami proses yang harus dilalui, serta membekali diri dengan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Antusiasme peserta pun mendapat respons positif dari salah seorang kelian adat di wilayah Sulahan yang memiliki pengalaman bekerja di kapal pesiar ketika masih muda.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat pemaparan YKKB bukan sekadar informasi biasa, melainkan bentuk perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda yang ingin mencari peluang kerja dan meningkatkan taraf hidup.
“Kami sangat mengapresiasi kerja YKKB. Ternyata yayasan ini punya perhatian dan kepedulian di dunia kerja. Saya sendiri mantan pekerja di kapal pesiar saat masih muda. Suksma YKKB,” ujar Kelian Adat Cekeng, Sulahan, Susut.
Apresiasi itu menjadi gambaran bahwa kehadiran organisasi di tengah masyarakat akan semakin bermakna ketika mampu menyentuh kebutuhan nyata krama. Pengalaman masa lalu seorang mantan pekerja kapal pesiar bertemu dengan informasi dan wawasan yang dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya.
Di sinilah kegiatan megendu wirasa memperoleh makna yang lebih luas. Dialog antara yayasan dan tokoh adat tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan organisasi, tetapi juga membuka ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan masyarakat.
Adat dan budaya tetap menjadi akar yang menjaga identitas Bali. Pada saat yang sama, peningkatan keterampilan, penguatan pertanian, dan akses terhadap informasi dunia kerja merupakan bagian dari upaya menyiapkan masyarakat agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Melalui pertemuan di Banjar Lumbuan, YKKB menunjukkan upaya membangun komunikasi dengan para pemangku kepentingan adat sekaligus memperkenalkan perhatian yayasan terhadap sektor-sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sebab, menjaga warisan leluhur bukan berarti menutup diri dari perubahan. Justru dengan berpegang teguh pada nilai-nilai budaya, masyarakat dapat melangkah lebih percaya diri menghadapi masa depan. Ketika adat tetap terjaga, pengetahuan terus bertambah, dan peluang kerja semakin dipahami, maka dialog di balai banjar tidak sekadar menjadi pertemuan sehari, tetapi dapat menjadi awal tumbuhnya harapan baru bagi krama Bali.(JpBali).



