Berita

Gubernur Koster Serukan Kedamaian Bali

Setelah aksi anarkis mengguncang Bali, Gubernur Koster dan FKUB mengajak masyarakat kembali pada jati diri sejati: menjaga kedamaian, menghormati perbedaan, dan merawat harmoni Tanah Gumi Bali.

jarrakppsbali.com, DENPASAR – Dalam suasana yang penuh keprihatinan, Gubernur Bali I Wayan Koster hadir tidak hanya sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi juga sebagai seorang putra daerah yang memahami betul jiwa masyarakat Bali. Dalam pertemuan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Koster menyampaikan pesan yang menenangkan namun tetap berisi, menyerukan agar seluruh elemen masyarakat tidak kehilangan jati diri dalam menghadapi situasi yang menegangkan.

Ia menekankan bahwa jalan kekerasan bukanlah jalan orang Bali, dan bahwa menghadapi tantangan seperti ini memerlukan ketenangan, kesabaran, dan kebijaksanaan. Sikap semacam inilah, menurutnya, yang telah menjaga harmoni Bali selama berabad-abad.

“Sebagai orang Bali, kita punya tanggung jawab untuk menjaga tanah ini tetap damai. Jangan mudah terprovokasi. Mari hadapi ini dengan kepala dingin, karena kita mewarisi nilai budaya yang menjunjung tinggi kedamaian dan kesantunan,” ujar Gubernur Koster dengan nada tenang, saat konferensi pers di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Minggu (31/8/2025).

Gubernur Koster juga menyampaikan keprihatinannya bahwa kejadian ini bisa merusak citra Bali yang dikenal dunia sebagai pulau spiritual, damai, dan penuh toleransi. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk kembali mengingat filosofi hidup orang Bali, Tri Hita Karana harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan  yang selama ini menjadi fondasi kuat kehidupan masyarakat di Pulau Dewata.

“Kita punya warisan leluhur yang luar biasa. Mari jaga itu. Jangan biarkan satu malam penuh emosi mengganggu harmoni yang telah kita rawat selama ini,” tambahnya.

Dalam forum yang dihadiri tokoh lintas agama dan adat itu, tampak jelas bahwa semua pihak memiliki kesadaran yang sama: Bali bukan milik satu golongan. Pulau ini adalah rumah bersama, yang dibangun dari keragaman dan dihiasi oleh rasa saling menghormati. Oleh karena itu, menjaga Bali berarti menjaga semua yang tinggal di dalamnya.

“Kita tidak boleh lupa, harmoni Bali lahir dari keberagaman. Kita bisa berbeda keyakinan, adat, maupun pandangan, tapi kita satu dalam menjaga kedamaian pulau ini,” ujar seorang pemuka agama Kristen yang turut hadir dalam pertemuan FKUB.

Kekhawatiran juga muncul dari kalangan tokoh adat. Bagi mereka, rusaknya citra Bali bukan hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga bisa memutus hubungan spiritual masyarakat dengan leluhur dan tanah tempat mereka berpijak. Bali adalah tanah yang disakralkan, dan karenanya harus dijaga bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin.

“Kalau tanah ini rusak karena kekerasan, bukan hanya wisatawan yang akan pergi. Roh-roh leluhur juga bisa menjauh. Ini bukan soal ekonomi saja, tapi soal keseimbangan jiwa kita sebagai orang Bali,” tutur seorang tokoh adat dari Karangasem.

Dari sisi ekonomi, pelaku UMKM dan para pelaku pariwisata yang baru kembali menggeliat pasca pandemi merasakan langsung kekhawatiran atas dampak dari insiden anarkis. Stabilitas adalah fondasi utama agar ekonomi Bali kembali kuat. Mereka berharap, kejadian ini tidak terulang lagi.

“Kami baru mulai bangkit. Kalau ada kekerasan seperti ini lagi, tamu takut datang, dan kami kembali ke titik nol. Tolong, jaga Bali tetap aman,” ucap seorang pemilik homestay kecil di kawasan Ubud.

FKUB juga menyampaikan dukungan penuhnya terhadap langkah-langkah hukum yang akan diambil oleh aparat TNI dan Polri. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa pendekatan yang dilakukan harus tetap mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, dan tetap menghormati hak asasi manusia.

“Kami percaya aparat kita profesional. Tapi mari kita pastikan bahwa hukum ditegakkan dengan adil. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat pelaku jera dan masyarakat tenang,” ujar perwakilan umat Katolik di forum FKUB.

Bali memang tidak luput dari tantangan zaman. Tapi sejarah telah membuktikan, pulau ini selalu punya cara untuk kembali menemukan harmoni. Dengan kearifan lokal, kekuatan budaya, dan hati yang terbuka, Bali akan terus berdiri sebagai simbol kedamaian dunia.

Himbauan FKUB dan seruan Gubernur Koster bukan hanya respons terhadap satu peristiwa, tapi pengingat bahwa menjaga Bali adalah tugas bersama. Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk generasi yang akan datang. Sekarang, keputusan ada di tangan kita semua, apakah kita siap menjaga warisan ini, atau membiarkannya pudar?.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button