DPRD Badung Hadiri Karya Memungkah dan Ngenteg Linggih di Pura Ulun Suwi
Wiradana mewakili Ketua DPRD Badung wujudkan dukungan terhadap tradisi subak dan pelestarian adat.

MANGUPURA, jarrakposbali.com – Di tengah kehijauan Subak Uma Teba yang membingkai wilayah Banjar Sibang, Desa Jagapati, nuansa sakral terasa sejak pagi. Asap dupa tipis menari di udara, sementara alunan kidung pemangku mengantar umat dalam khusyuk. Suasana menjadi semakin bermakna ketika Anggota DPRD Badung Nyoman Gede Wiradana hadir mewakili Ketua DPRD Badung untuk mengikuti rangkaian Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Ngrsi Gana, Mepedagingan, dan Medasar Caru Wrespati Kalpa di Pura Ulun Suwi, Senin (8/12/2025).
Karya yadnya yang digelar Subak Uma Teba ini merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus ungkapan syukur atas keselarasan alam dan keberlangsungan pertanian di jagat subak.
Prosesi memungkah hingga ngenteg linggih dilaksanakan secara runtut, melibatkan krama subak, pemangku, tokoh masyarakat, serta unsur desa adat.
Kehadiran Wiradana tidak hanya sebagai bentuk representasi lembaga legislatif, tetapi juga sebagai wujud kedekatan DPRD Badung dengan masyarakat subak sektor yang hingga kini menjadi tulang punggung budaya dan identitas Bali.
Dalam balutan busana adat madya, Wiradana mengikuti prosesi dengan penuh takzim, menyimak satu per satu tahapan upacara yang dipercaya memperkuat energi kesucian pura dan menjaga keseimbangan alam sekitar.
βKarya seperti ini bukan hanya ritual, tetapi juga pengikat kesatuan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Subak adalah warisan adiluhung, dan kami di DPRD Badung selalu berkomitmen mendukung pelestarian nilai-nilai adat dan budaya, termasuk melalui karya-karya krama subak seperti hari ini,β ujar Wiradana usai prosesi.
Upacara dipungkasi dengan persembahyangan bersama yang memadukan kesyahduan suara gamelan baleganjur dengan doa-doa yang bergema di bawah langit Abiansemal. Bagi masyarakat Subak Uma Teba, kehadiran wakil rakyat menjadi sebuah penyemangat dalam menjaga tradisi turun-temurun. Di tengah perubahan zaman, karya ini kembali menegaskan bahwa harmoni antara manusia, alam, dan budaya tetap menjadi napas kehidupan di Bali.(JpBali).



