Ketut Leo, Dermawan Nusa Penida yang Tetap Rendah Hati di Usia 45 Tahun
Sejak remaja, Ketut Leo mendedikasikan hidupnya untuk pembangunan pura, kegiatan sosial, hingga pelestarian budaya Bali. Baginya, pengabdian adalah napas kehidupan.

jarrakposbali.com,DENPASAR – Di balik gemerlap pariwisata Bali yang tersohor hingga mancanegara, ada sosok sederhana yang tak pernah mencari sorotan.
Dialah I Ketut Lea Wijaya, akrab disapa Ketut Leo, seorang pengusaha sekaligus tokoh masyarakat asal Nusa Penida, Klungkung.
Sejak usia 19 tahun, Ketut Leo telah memulai langkah pengabdiannya.
Bukan untuk meraih popularitas, melainkan untuk mewujudkan harmoni dan kebersamaan.
Ia ikut membangun puluhan pura dan merajan di Nusa Penida, menyumbangkan tenaga, waktu, dan hartanya dengan penuh ketulusan. Semua dilakukan dalam semangat ngayah pengabdian tulus tanpa pamrih.
Kini, di usianya yang ke-45 tahun, yang dirayakan sederhana di kediamannya di Badung, sosok Ketut Leo tetap konsisten dengan jalan hidupnya.
Ucapan selamat dan doa mengalir deras, salah satunya dari kakak kandungnya, I Made Satria , yang menuliskan di Facebook Satria Waringin.
“Selamat ulang tahun adikku, tetaplah rendah hati dan tulus ngayah untuk masyarakat. Semoga selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya dalam unggahanya, Senin (18/8/2025).
Kedermawanannya bukan hanya cerita. Warga mengenalnya sebagai sosok yang cepat tanggap membantu, mulai dari menyumbangkan kursi roda untuk penyandang disabilitas, memberikan matras untuk olahraga karate, hingga mendukung pembangunan fasilitas umum. Dalam setiap langkah, Ketut Leo selalu menghadirkan kepedulian.
Perannya juga terasa dalam pelestarian budaya dan pendidikan. Bersama kakaknya, I Made Satria, jauh sebelum terjun ke dunia politik, Ketut Leo turut membangun Pura Paibon Arya Kuta Waringin.
Ia pun mendukung pendidikan anak-anak dengan memberikan beasiswa dan les gratis.
Karakter rendah hati membuatnya dihormati lintas kalangan.
Ia meyakini bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang harta atau jabatan, melainkan tentang seberapa besar dirinya bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Masyarakat menyanjungnya sebagai figur dermawan, spiritual, dan berjiwa sosial tinggi. Seorang putra Nusa Penida yang pengabdiannya melampaui batas formalitas, semata demi solidaritas dan masa depan Bali.
Di tengah usia yang matang, Ketut Leo tetap teguh pada prinsip: hidup yang berarti adalah hidup yang mengabdi.(jpbali).



