Berita

Kisah Pilu Keluarga Miskin di Bali

Mimih Dewa Ratu! Nengah Tamba Sakit Lumpuh, Butuh Bantuan Dermawan

SINGARAJA, jarrakposbali.com | Sungguh pilu penderitaan yang dialami oleh I Nengah Tamba. Sejak lama, dia tidak bisa bergerak karena lumpuh total, hanya tergolek lemah tak berdaya di atas kasur usang.

Tiada cahaya yg dia rasakan, hanya gelap gulita diterimanya. Untuk bertahan hidup, dia hanya menunggu iba para tetangga dan dermawan yang merasa kasihan melihat penderitaannya. Kini tubuh Tamba kurus kerempeng, hanya tinggal tulang terbungkus kulit penuh luka borok akibat bisul. Sungguh memprihatinkan.

Sementara sang istri yang sudah lansia juga tidak bisa berbuat banyak, lantaran sudah tidak kuat bekerja. Dia hanya fokus melayani dan merawat suaminya yang sangat dicintainya itu.

Miris, sungguh miris derita yang dialami kekuarga tidak mampu ini. I Nengah Tamba (65), warga Banjar Dinas Sekar Sari, Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Singaraja. Sejak lima tahun, dia lumpuh total. Dia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di atas kasur usang.

“Kelumpuhannya itu, awalnya karena dia jatuh dari pohon sekitar lima tahun lalu. Itulah awal penderitaannya,” tutur Kadek Peni, salah seorang tetangganya, senin (28/2/2022).

Diawal kejadian jatuh dari pohon, Nengah Tamba menurut Kadek Peni, sudah berusaha utk diobati melalui pijet tradisional, namun tidak ada perkembangan dan justru tambah parah.

“Untuk berobat ke dokter atau ke rumah sakit sudah tidak mungkin. Mereka tidak punya biaya. Jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari aja susah,” ujar Kadek Peni yang mengaku sering membantu mengurus Nengah Tamba.

Sejak mengalami kelumpuhan itu, Tamba yang tinggal dengan istrinya praktis tidak lagi bisa bekerja. Sebelumnya Tamba hanyalah buruh tani. Otomatis sejak itu, Tamba menggantungkan hidupnya dari istri dan satu anak laki-lakinya.

“Namun ya itu tadi, anak laki-lakinya hanya sebagai buruh bangunan. Kadang bekerja dan kadang ngk, kebanyakan mganggurnya. Penghasilannya tidak menentu. Sementara istrinya juga sudah lansia, jarang bekerja,” imbuh Kadek Peni.

Menurut Kadek Peni, Nengah Tamba memilik empat orang anak. Tiga anaknya perempuan dan sudah menikah serta tinggal bersama suaminya di tempat lain. Hanya satu anak laki-laki, juga sudah menikah dan memiliki anak. Kehidupan anak laki-lakinya juga pas-pasan.

“Saya sungguh kasihan dengan mereka (Tamba) untuk makan sehari-hari susah. Tapi untung banyak tetangga yang membantu, ada ngasi beras, lauk, uang hingga ada yang ngasi pempes,” tuturnya lirih sambil berlinang air mata.

Penderitaan, Nengah Tamba kian bertambah. Beberapa tahun mengalami lumpuh total, tiba-tiba dia buta dan tidak bisa bicara, sehingga tidak bisa diajak berkomonikasi. Menggunakan isyarat juga sudah tidak bisa karena seluruh tubuhnya mengalami kelumpuhan.

Belakangan di tubuh Tamba justru tumbuh bisul-bisul dan mulai luka borok. Namun demikian, Tamba belum mendapat perawatan medis, karena istri dan anaknya tidak memiliki biaya untuk berobat.

Kini, istri Nengah Tamba, hanya bisa pasrah dengan penderitaan sumi tercintanya. Dia saat ini sangat mengharapkan bantuan para dermawan untuk meringankan beban hidupnya. Kebutuhan yang sangat mendesak adalah pempes, karena tiap hari membutuhkan 2 sampai 3 pempes. Untuk membeli, dia sudah tidak memiliki biaya.

Terkait derita yang dialami Nengah Tamba, Perbekel Selat belum bisa dihubungi. Dicoba menghubungi melalui telpon dalam keadaan aktif, namun tidak dijawab. Demikian halnya dicoba menghubungi melalui pesan WhatsApp belum juga di balas. (dewa darmada)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button