BeritaGianyar

Model Ginalatrik, Cara Baru Percepat Penanganan Stunting di Batubulan Kangin

BATUBULAN KANGIN, jarrakposbali.com – Melawan stunting tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Di tingkat desa, upaya itu bisa dimulai dari hal sederhana: pengetahuan yang tepat, keterampilan yang bisa dipraktikkan, serta kepedulian masyarakat terhadap tumbuh kembang anak.

Semangat itulah yang terlihat dalam pelatihan pemberdayaan Tim Penggerak PKK Desa Batubulan Kangin melalui Model Ginalatrik, yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Desa Mitra (PPDM) Poltekkes Kemenkes Denpasar, Senin (10/8).

Model Ginalatrik memadukan edukasi gizi, stimulasi pijat Tuina, dan latihan psikomotorik sebagai pendekatan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara holistik dan terintegrasi.

Bukan sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan dari tingkat paling dekat dengan keluarga, yakni masyarakat desa.

Sekretaris Desa Batubulan Kangin, I Wayan Warka, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh jangan berhenti di ruang pelatihan, tetapi harus diteruskan kepada kader Posyandu dan keluarga yang memiliki balita.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang diberikan melalui Model Ginalatrik dapat diterapkan dan diteruskan kepada kader Posyandu serta ibu-ibu balita di masing-masing banjar.”

Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat menjadi salah satu kunci agar edukasi mengenai gizi dan tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi teori. PKK diharapkan mampu menjadi penggerak yang membawa pengetahuan tersebut lebih dekat kepada keluarga.

Ketua TP PKK Desa Batubulan Kangin, Ni Made Suniti, S.E., juga berharap pelatihan tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam mendukung keluarga yang memiliki balita.

Di sisi lain, Ketua Tim Pengabdi, Dr. I Wayan Juniarsana, SST., M.Fis., menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari meningkatnya pengetahuan peserta saat pelatihan.

“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat diteruskan kepada kader Posyandu dan selanjutnya diterapkan dalam pendampingan keluarga.”

Pelatihan kemudian dikemas secara interaktif. Peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal. Setelah itu, materi edukasi gizi dan pola pemberian makanan balita disampaikan oleh I Gusti Ayu Ari Widarti, DCN., M.Kes.

Sementara materi stimulasi pijat Tuina diberikan oleh Dr. I Wayan Juniarsana, sedangkan latihan psikomotorik disampaikan I Gusti Sudita Puryana, dengan dukungan tenaga PLP dan mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar.

Suasana pelatihan semakin hidup ketika peserta memasuki sesi praktik. Gerakan pijat Tuina dan latihan psikomotorik tidak hanya disimak, tetapi dipraktikkan langsung. Peserta juga aktif berdiskusi mengenai bagaimana Model Ginalatrik dapat diterapkan dalam pendampingan balita.

Juniarsana menilai keterlibatan peserta menjadi bagian penting dari proses tersebut.

“Melalui penguatan peran masyarakat, kami berharap upaya pencegahan stunting dan gizi kurang dapat dilakukan secara berkelanjutan, dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat.”

Setelah seluruh materi dan praktik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan post-test. Tahapan ini menjadi evaluasi untuk melihat pemahaman peserta setelah mengikuti rangkaian pelatihan.

Pada akhirnya, persoalan stunting bukan hanya tentang angka. Di baliknya ada pertumbuhan seorang anak, ada harapan orang tua, dan ada masa depan generasi yang sedang dibentuk sejak usia dini.

Karena itu, ketika pengetahuan tentang gizi, stimulasi tumbuh kembang, dan pendampingan keluarga dapat bergerak dari akademisi menuju PKK, kader Posyandu hingga rumah-rumah warga, maka desa memiliki kekuatan baru untuk ikut mengambil peran.

Ke depan, TP PKK Desa Batubulan Kangin diharapkan mampu mengimplementasikan pengetahuan Model Ginalatrik dalam kegiatan Posyandu serta meneruskannya kepada kader dan keluarga balita di masing-masing banjar. Dari desa, langkah kecil itu diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan untuk mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mempercepat penurunan stunting dan gizi kurang.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button