
GIANYAR, jarrakposbali.com – Suasana hangat dan penuh semangat terasa di Desa Sumita dan Desa Bakbakan, Gianyar, Selasa (7/4). Di tengah aktivitas masyarakat, kehadiran Tim Pembina (TP) Posyandu Provinsi Bali membawa energi baru bukan hanya sekadar pembinaan, tetapi juga aksi nyata berbagi dan menguatkan peran kader di lapangan.
Ketua TP Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, turun langsung menyapa kader dan masyarakat. Kegiatan “Membina dan Berbagi” menjadi langkah konkret dalam memperkuat kapasitas kader Posyandu, sekaligus menyamakan pemahaman terkait transformasi layanan melalui enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Membina dan berbagi ini bertujuan memperkuat kapasitas kader serta menyamakan pemahaman terkait Posyandu dengan 6 SPM yang kini mulai diterapkan,” ujar Ny. Putri Koster.
Ia menegaskan, Posyandu kini tidak lagi hanya berfokus pada layanan kesehatan, melainkan telah berkembang menjadi pusat layanan enam bidang dasar. Perubahan ini menuntut kader untuk memiliki pemahaman yang lebih luas dan peran yang semakin strategis di tengah masyarakat.
“Posyandu sekarang mencakup berbagai layanan dasar. Kader harus siap dengan peran yang lebih luas dalam mendampingi masyarakat,” tambahnya.
Selain pembinaan, kegiatan ini juga diisi dengan aksi berbagi bantuan. Sebanyak 54 kader di Desa Sumita dan 72 kader di Desa Bakbakan menerima dukungan berupa beras, telur, dan susu. Bantuan ini bukan hanya sekadar materi, tetapi juga bentuk apresiasi dan motivasi atas dedikasi mereka.
“Ini bentuk perhatian agar para kader tetap semangat menjalankan tugasnya sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat,” ungkap Ny. Putri Koster.
Di sisi lain, penguatan Posyandu juga terus didorong di tingkat kabupaten. Ketua TP Posyandu Kabupaten Gianyar, Ny. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra, menyampaikan bahwa ribuan kader telah aktif mendukung pelayanan masyarakat di seluruh wilayah Gianyar.
“Secara kelembagaan kita sudah siap, namun implementasi di lapangan masih terus berproses,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari ratusan Posyandu yang diusulkan untuk registrasi nasional, sebagian telah terverifikasi dan sisanya masih dalam proses. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem layanan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Di awal 2026, kami sudah menetapkan 15 Posyandu sebagai percontohan implementasi 6 SPM,” tambahnya.
Tak hanya itu, inovasi juga dilakukan melalui pengembangan Sistem Informasi Posyandu yang memungkinkan pencatatan data secara berjenjang. Data ini menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan, termasuk dalam upaya percepatan penurunan stunting.
“Dengan sistem ini, kami memiliki data yang akurat dan terintegrasi,” tegasnya.
Melalui kolaborasi, pembinaan, dan aksi nyata di lapangan, Posyandu di Bali terus bertransformasi menjadi pilar penting pelayanan dasar masyarakat. Dari desa, harapan itu tumbuh menuju keluarga yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan.(JpBali).



