
DENPASAR, jarrakposbali.com – Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, suasana hening yang menjadi ciri khas perayaan ini tetap menyisakan satu kebutuhan yang tidak bisa berhenti, yaitu layanan kesehatan.
Di tengah pembatasan aktivitas masyarakat, RSUD Bali Mandara justru memasuki fase siaga penuh, terutama karena posisinya berada di kawasan kota dan jalur wisata yang cukup padat.
Rumah sakit ini menyiapkan skema pelayanan khusus agar tetap responsif terhadap kondisi darurat yang bisa terjadi kapan saja selama Nyepi.
“RSUD Bali Mandara pelayanan kesehatan tetap berjalan selama pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 dan Instalasi Gawat Darurat tetap beroperasi 24 jam penuh,” ujar Direktur RSUD Bali Mandara, dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya, Selasa (17/3/2026).
Kesiapan ini tidak hanya soal membuka layanan, tetapi juga memastikan seluruh unsur tenaga medis tersedia dalam jumlah yang memadai.
“Kami menyiapkan tim komprehensif sebanyak 145 tenaga kesehatan profesional untuk berjaga selama Hari Raya Nyepi,” jelasnya.
Pengaturan jadwal menjadi bagian penting agar layanan tetap stabil, terutama pada kondisi yang tidak bisa diprediksi.
“Sebanyak 24 dokter spesialis kami siapkan dalam status on call, mencakup berbagai bidang seperti bedah, kardiologi, neurologi, hingga pediatri,” imbuhnya.
Dalam kondisi Nyepi, mobilitas masyarakat memang terbatas. Namun, kebutuhan darurat tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
“Setiap pasien yang membutuhkan penanganan medis darurat akan tetap mendapatkan pelayanan terbaik tanpa terkecuali,” terangnya.
Yang menarik, koordinasi dengan pecalang menjadi bagian dari sistem yang sering kali tidak terlihat, namun sangat menentukan kelancaran layanan.
“Kami menjalin komunikasi intensif dengan pecalang agar ambulans tetap bisa melintas membawa pasien darurat tanpa menyalakan sirine,” paparnya.
Sebagai rumah sakit yang berada di jalur wisata, perhatian juga diberikan pada kemungkinan pasien dari kalangan wisatawan.
“Kami siap memberikan penanganan cepat bagi wisatawan yang mengalami kondisi darurat, termasuk layanan penjemputan jika diperlukan,” ujarnya.
Di balik layanan medis, ada sistem pendukung yang bekerja secara senyap namun krusial, mulai dari farmasi hingga logistik.
“Kami menyiagakan tenaga apoteker, petugas laboratorium, radiologi, hingga unit sterilisasi untuk memastikan seluruh kebutuhan medis tetap terpenuhi,” tegasnya.
Aspek ketersediaan logistik sering kali luput dari perhatian publik, padahal justru menjadi fondasi layanan selama situasi terbatas.
“Kebutuhan obat, oksigen, hingga nutrisi pasien kami pastikan aman selama periode Nyepi,” tambahnya.
Di tengah suasana yang serba tenang, rumah sakit juga menyampaikan pesan sederhana kepada masyarakat dan wisatawan.
“Apabila terjadi keadaan darurat, rumah sakit tetap beroperasi 24 jam dan siap memberikan pelayanan medis secara optimal,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Nyepi bukan hanya tentang menghentikan aktivitas, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan. Di satu sisi, masyarakat menjalankan ritual hening dengan penuh makna.
Di sisi lain, tenaga kesehatan tetap bergerak dalam diam, memastikan bahwa kehidupan tetap terjaga ketika dibutuhkan. Di ruang-ruang IGD yang tetap menyala, ada bentuk pengabdian yang berjalan tanpa banyak suara.(JpBali).



