
BANGLI, jarrakposbali.com β Pada Jumat 23 Januari 2026,Pagi di Penglipuran terasa tenang, dengan udara sejuk yang menyelimuti Tugu Pahlawan. Di ruang terbuka itu, para pemangku kepentingan berkumpul untuk satu tujuan yang sama. Membicarakan masa depan Desa Wisata Penglipuran agar tetap lestari, tertata, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat adatnya.
Sosialisasi peningkatan sinergi dan penguatan peran desa adat dalam pengelolaan Desa Wisata Penglipuran dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Bangli Ketut Suastika bersama Wakil Ketua DPRD Komang Carles. Kehadiran pimpinan DPRD ini menandai dukungan kelembagaan terhadap pengelolaan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Acara tersebut juga dihadiri Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati I Wayan Diar, Forkopimda Kabupaten Bangli, Sekretaris Daerah, Majelis Desa Adat Kabupaten Bangli, para kepala OPD terkait di lingkungan Pemkab Bangli, Camat Bangli, Lurah Kubu, para kepala lingkungan, serta masyarakat Desa Penglipuran.
Dalam suasana dialogis, sosialisasi ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, desa adat, dan masyarakat. Desa adat dipandang sebagai aktor utama dalam menjaga nilai budaya, tata ruang tradisional, serta etika pengelolaan pariwisata yang selama ini menjadi kekuatan Penglipuran.
Ketua DPRD Kabupaten Bangli Ketut Suastika menyampaikan bahwa Penglipuran merupakan contoh nyata desa wisata yang tumbuh dari kekuatan adat.
βSinergi yang baik akan membantu desa adat tetap berdaulat dalam pengelolaan, sekaligus adaptif terhadap dinamika pariwisata,β ujarnya.
Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mendukung desa adat melalui kebijakan dan program yang sejalan dengan nilai lokal. Menurutnya, keberhasilan Penglipuran tidak lepas dari konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi dan lingkungan.
Sosialisasi ini menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana pariwisata dapat dikelola secara berkelanjutan. Di banyak kasus, kekuatan desa wisata justru lahir dari kesederhanaan dan kepatuhan pada nilai adat. Pada akhirnya, Penglipuran kembali diingatkan sebagai warisan hidup yang dijaga bersama, bukan sekadar destinasi yang dikunjungi.(JpBali).



