BadungBerita

Karya Yadnya di Pura Dalem Sari, Budaya Jadi Napas Pariwisata Badung

Bupati Adi Arnawa Tegaskan Pariwisata Badung Tumbuh dari Budaya yang Dijaga Krama

BADUNG, jarrakposbali.com – Di balik gemerlap pariwisata Badung yang dikenal hingga mancanegara, ada kekuatan lain yang terus dijaga dari desa-desa adat: budaya. Tradisi, yadnya, seni, dan semangat gotong royong krama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wajah pariwisata Bali.

Pesan itu kembali mengemuka saat Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri Karya Padudusan Alit, Ngenteg Linggih, Melaspas, Mupuk Pedagingan dan Tawur Balik Sumpah Madya di Pura Dalem Sari, Br. Adat Kedampal, Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kecamatan Abiansemal, Selasa (15/9/2026).

Bupati Adi Arnawa hadir didampingi Anggota DPRD Kabupaten Badung Putu Dendy Astra Wijaya sebagai upasaksi dalam rangkaian Acara Adining Yadnya tersebut.

Pemkab Badung memberikan dukungan melalui hibah upakara sebesar Rp450 juta yang bersumber dari APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026. Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan karya sekaligus upaya meringankan beban krama pengempon.

Bagi masyarakat, karya di pura bukan sekadar rangkaian upacara. Di dalamnya terdapat semangat menyama braya, gotong royong, ngayah, serta upaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Budaya adalah Napas Pariwisata

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Adi Arnawa menegaskan bahwa perkembangan pariwisata Badung tidak dapat dilepaskan dari kekuatan budaya masyarakat.

“Pariwisata Badung berkembang pesat karena bernafaskan budaya, dan budaya itu hidup karena krama yang melestarikannya. Oleh karena itu, negara harus hadir untuk memastikan kesejahteraan masyarakatnya,” ujar Adi Arnawa.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak hanya berbicara mengenai hotel, destinasi, infrastruktur, maupun kunjungan wisatawan. Di balik itu semua terdapat identitas Bali yang menjadi daya tarik sekaligus fondasi kehidupan masyarakat.

Karena itu, dukungan terhadap kegiatan adat dan keagamaan menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Rp450 Juta untuk Karya, Gotong Royong Tetap Jadi Kekuatan

Dukungan Pemkab Badung sebesar Rp450 juta diserahkan secara simbolis dalam rangkaian acara. Kehadiran pemerintah di tengah krama juga menjadi bentuk sinergi antara pembangunan daerah dengan pelestarian adat dan budaya.

Rangkaian karya suci tersebut telah dimulai sejak 29 Juli 2026. Nuansa religius semakin terasa dengan berbagai pementasan kesenian tradisi keagamaan Bali, di antaranya Wali Gong Tegak, Topeng, Wayang Lemah, Rejang Dewa, Baris Gede, dan Pesantian.

Kesenian tersebut bukan sekadar hiburan. Setiap pementasan menjadi bagian dari ekspresi budaya yang menyertai rangkaian yadnya sekaligus ruang bagi generasi penerus untuk mengenal dan meneruskan tradisi.

Upacara dipuput oleh Ida Pedanda Griya Lebah Manuaba, Ida Pedanda Griya Budha Saraswati Batuan (Gianyar), serta Ida Pedanda Istri Griya Magelung Baha selaku Tapini Karya.

Dari Pura, Merawat Identitas Bali

Karya di Pura Dalem Sari menjadi gambaran bahwa kekuatan budaya Bali sesungguhnya tumbuh dari masyarakat. Pemerintah memberikan dukungan, sementara krama menjadi penjaga utama tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah derasnya perkembangan pariwisata dan modernisasi, ruang-ruang adat seperti inilah yang menjaga Bali tetap memiliki jati diri.

Semangat menyama braya dan gotong royong yang terlihat dalam pelaksanaan karya juga menjadi modal sosial yang penting bagi masyarakat. Ketika krama bergerak bersama, beban karya menjadi tanggung jawab bersama dan tradisi tetap memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Badung, menjaga budaya berarti menjaga salah satu fondasi utama pariwisata. Sebab wisatawan tidak hanya datang untuk melihat keindahan alam, tetapi juga untuk merasakan identitas Bali yang hidup melalui adat, seni, tradisi, dan kehidupan masyarakatnya.

Karya Berlanjut hingga Oktober

Rangkaian upacara di Pura Dalem Sari masih akan berlangsung hingga prosesi penyineban pada 27 Oktober 2026 mendatang.

Sejumlah unsur pemerintahan dan adat turut hadir, di antaranya Camat Abiansemal, Perbekel Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kelian Banjar Adat, Prajuru Dinas, para pemangku, serta seluruh Prawartaka Karya.

Karya ini akhirnya bukan hanya tentang sebuah upacara di sebuah pura. Lebih jauh, ia menjadi cermin bagaimana budaya tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat Bali dan bagaimana dari denyut itulah pariwisata Badung terus tumbuh, berkembang, sekaligus mempertahankan identitasnya.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button