Berita

Warga Protes Debu Ancam Tutup Jalan, Pemilik Tambak ‘Bedu’ BPD Yehembang Ompong

JEMBRANA, jarrakposbali.com ! Sejumlah warga Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, terutama yang tinggal berdekatan dengan tambak udang milik investor asal Jakarta, kembali memprotes adanya debu kapur yang berhamburan.

Protes tersebut kembali mereka lakukan lantaran beberapa waktu lalu protesnya terkait polusi debu kapur yang bersumber dari jalan menuju tambak udang tidak digubris oleh pihak pemilik tambak.

Bahkan keberadaan warga terkait polusi debu yang sangat mengganggu tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada pihak perbekel setempat dan anggota BPD Yehembang, namun tidak ada tindak lanjut terkait keberatan warga tersebut.

Pihak BPD Yehembang beserta kelian banjar setempat dan aparat kepolisian dari Bhabinkamtibmas juga sudah sempat mendatangi pihak tambak terkait keberatan warga tersebut, namun pemilik tambak terkesan cuek, tidak menggubris keluhan warga tersebut. Beredar rumor, keberadaan tambak udang tersebut dibekingi orang kuat.

2. Tambak udang di pesisir Yehembang milik investor asal Jakarta

“Saya mewakili warga lain sudah pernah protes ke tambak secara langsung mengenai debu kapur yang sangat mengganggu, tapi tidak direspon oleh pihak tambak,” terang Gusti Ngurah Ardana, Senin (30/10/2023).

Menurutnya debu kapur yang bersumber dari jalan menuju tambak sangat mengganggu warga karena debu-debu tersebut berhamburan sampai masuk ke dalam rumah warga, termasuk masuk ke dalam dapur. Kaca-kaca dan lantai rumah warga dipenuhi debu kapur, sehingga rumah menjadi kotor.

“Saat diprotes memang pernah disiram sekali, itupun nyiramnya asal-asalan, hanya di depan-depan rumah warga. Setalah itu tidak pernah lagi menyiram jalan,” imbuh Ngurah Ardana yang diamini warga lainnya.

Lanjut Ngurah Ardana, debu yang berhamburan terjadi setiap hari karena tertiup oleh angin. Terlebih jika ada kendaraan lewat debu berhamburan tambah parah. Jika ini dibiarkan, tentu saja akan berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar.

“Ini jalan sebenarnya yang punya adalah kami pemilik tanah kapling, bukan jalan desa. Kami membeli tanah kapling disini sebelum ada tambak dengan harga yang mahal biar dibuatkan jalan yang lebar. Jadi kalau pemilik tambak tidak memperhatikan kami, terpaksa kami tutup jalan ini karena ini bukan jalan tambak,” tegasnya mewakili warga lainnya.

Ngurah Ardana juga menambahkan, diawal pembangunan tambak, pihaknya pernah meminta pertanggungjawaban pemilik tambak agar jalan yang rusak di perbaiki. Pemilik tambak menyanggupi untuk memperbaiki bahkan katanya akan diaspal, namun ternyata hanya diurug dengan tanah kapur.

“Intinya kami minta pemilik tambak segera memperbaiki jalan sehingga tidak ada lagi polisi debu. Tapi kalau tidak ditanggapi, mohon maaf jalan akan kami tutup,” pungkasnya.

Sebelumnya, terkait protes warga akan debu yang berhamburan sempat ditindaklanjuti oleh pihak BPD Yehembang. Mereka turun bersama kelian banjar dan Bhabinkamtibmas menemui pihak tambak untuk meminta melakukan penyiraman jalan secara rutin, termasuk meminta segera memperbaiki jalan sehingga tidak menimbulkan debu.

“Waktu kita datangi, pihak tambak berjanji akan melakukan penyiraman secara rutin. Untuk perbaikan jalan pemilik tambak berjanji akan memperbaiki setelah panen pertama,” ujar Ketua BPD Yehembang Gusti Ngurah Anom.(ded)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button