Waspada! Bandar Udara Ngurah Rai Bali Ternyata Rawan Disapu Tsunami

DENPASAR, jarrakposbali.com ! Bandar udara Ngurah Rai di Bali, ternyata sangat rawan dihantam tsunami. Karena itu langkah antisipasi telah dilakukan oleh pihak Badan Meteorogi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bila sewaktu-waktu teejadi genpa disertai tsunami.
“Keberadaan Bandara Ngurah Rai ini sangat vital bagi Indonesia, karena merupakan pintu masuk utama bagi para wisatawan manca negara. Karena itu kita perlu antisipasi jika terjadi genpa dan tsunami,” terang Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Jumat, (12/11/2022).
Dikatakan rawan dari hantaman tsunami, karena jarak bandara dengan bibir pantai nol meter. Hal ini menurutnya sangat berpotensi disapu tsunami, jika sewaktu-waktu ada gempa besar melanda Bali.

Terkait kerawan tersebut menurut Dwikorita, ada tiga upaya yang bisa dilakukan pihak BMKG yakni, Meningkatkan akurasi pemodelan berkaitan dengan bahaya tsunami. Mengingat bandara itu berada berada di pesisir pantai, berhadapan dengan sumber gempa perpotensi tsunami.
Kemudian upaya kedua menurutnya adalah dengan memasang sistem dengan memasang sistem penerima informasi gempa dan tsunami (WRS New Generation) yang akan diintegrasikan ke dalam sistem yang ada di command center Bandara Ngurah Rai.
“WRS ini memungkinkan masyarakat dan seluruh pengguna bandara mengetahui adanya gempa bumi dan potensi terjadinya tsunami dalam waktu kurang dari 5 menit atau sekitar 2-4 menit,” ujarnya.
Kemudian upaya ketiga adalah, BMKG akan mengedukasi stakeholder dan petugas perihal penyelamatan di bandara tersebut, dengan cara melatih serta menyelenggarakan drill atau simulasi evakuasi terkait dengan respon informasi gempa dan tsunami secara cepat dan tepat utuk menyelamatkan bandara.
Lebih lanjut Dwikorita mengatakan, mitigasi wajib dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota setempat untuk menekan kerugian dan korban jiwa. Karena di sekitar bandara juga ada kawasan pemukiman penduduk.
Disebutkan pula, realita ini hendaknya menjadi catatan bagi pemerintah dan semua pihak saat hendak membangun infrastruktur, sebab wilayah Indonesia berada di lingkaran cincin api sehingga rawan terjadinya gempa bumi dan tsunami.
“Sebenarnya pembagunan berbagai fasilitas publik idealnya diarahkan di wilayah aman dari bencana untuk menghindari korban jiwa dan kerugian,” paparnya.

Dwikorita dalam kunjungannya ke Bandara Ngurah Rai, Kamis (10/2/2022) lalu, juga memastikan seluruh peralatan observasi cuaca penunjang keselamatan penerbangan di Ngurah Rai dalam keadaan baik.
“Data-data cuaca, seperti kecepatan dan arah angin, curah hujan, tekanan udara, jarak pandang, tinggi dasar awan dan sebagainya yang sangat penting dalam membuat rencana penerbangan serta untuk lepas landas pesawat. Data tersebut berperan penting dalam menjamin keselamatan dan kenyamanan penumpang,” imbuhnya.
Pihaknya juga sempat meninjau kesiapan alat pengamatan Automated Weather Observing System (AWOS) yang berada di ujung landasan Bandara Ngurah Rai. AWOS tersebut dilengkapi sejumlah sensor seperti sensor suhu dan kelembaban, sensor tekanan, sensor curah hujan, sensor arah dan kecepatan angin, dan sensor radiasi matahari.(ded)



