Tumpak Krulut, Hari Kasih Sayang Versi Bali Dan Hari Valentine

DENPASAR, jarrakposbali.com 13/02/2022Belakangan ini kita di Indonesia terutama kalangan anak muda setiap tanggal 14 Pebruari makin marak ikut-ikutan merayakan Hari Valentine yang konon merupakan perayaan Hari Kasih Sayang.Perayaan Valentine tersebut identik dengan pemberian bunga mawar dan kue coklat kepada orang yang disayang.
Mengenai sejarah lahirnya Hari Valentine ada beberapa versi sehingga mana yang sesungguhnya benar belum ada kepastian.Yang jelas itu budaya luar yang sepertinya tidak penting untuk dibahas dan perdebatkan.Lalu belakangan ini Gubernur Bali,I Wayan Koster mendengungkan Hari Kasih Sayang yang sepatutnya dilaksanakan setiap Tumpek Krulut,yang menurut perhitungan Pawukon Bali datang setiap 210 hari sekali.Nah,untuk membahas hal ini,awak media menemui beberapa narasumber yang berkompeten mengenai hal ini.

Pertama,menurut Jro Mangku Ireng asal Desa Bajra,Tabanan mengatakan, sesungguhnya kita di Bali sudah lengkap punya hari- hari kasih sayang. “Kita sebagai orang Bali sepatutnya berbangga karena jauh lebih lengkap memiliki hari- hari kasih sayang.Hari kasih sayang kepada tumbuhan kita rayakan dengan Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag,Hari Kasih Sayang kepada binatang kita bikinkan upacara Tumpek Uye dan kepada sesama manusia kita rayakan saat Tumpek Krulut.Nah,apa lagi? Yang penting prakteknya dalam keseharian kita konsisten menunjukkan kasih saya kepada sesama manusia,binatang dan juga tumbuh- tumbuhan,” terangnya.
Sementara menurut Jro Mangku Alas Arum,Abiansemal,Tumpel Krulut identik dengan Hari Piodalan Taksu atau kharisma, menjalin kasih sayang,serta saat Tumpek Krulut ini umat Hindu di Bali melaksanakan ucapaca penghormatan kepada alat-alat yang disakralkan,seperti perangkat tabuh/ gambelan,topeng,barong dan yang lainnya.”Dan kalau dikaitkan dengan hari kasih sayang,ya…saat inilah waktunya mengekspresikan kasih sayang entah kepada pasangan atau orang yang disayangi,”tambahnya teman SMP Putu Liong ini.

Lalu awak media menghubungi Wakil Ketua l PHDI,I Wayan Pasek Sukayasa,ST.SH. “Sesuai pemahaman sastra,Tumpek Krulut itu artinya jalinan atau rangkaian cinta kasih.Dalam Hindu Bali saat Tumpek Krulut ini Tuhan dipuja dalam manifestasi Beliau sebagai Dewa Iswara sebagai rasa syukur atas terciptanya suara-suara suci seperti tabuh/gambelan sehingga ada juga yang menyebut Odalan Gambelan Gong.Nah,saat itulah menjadi momentum umat Hindu muwujudkan kasih sayang kepada alat-alat gambelan terse ut.Tapi jangan salah,kita tidak menyembah perangkat alat gambelan,tapi kita mendoakan agar alat-alat gambelan tersebut bermanfaat dalam kehidupan,”ungkapnya.
Ditanya kaitannya dengan Hari Kasih Sayang,Sekretaris Tim Hukum PHDI Provinsi Bali ini menjelaskan bahwa ini merupakan sebuah momentum yang tepat bagi kita untuk semakin mengeratkan jalinan cinta kasih kepada sesama dalam artian yang positif.
“Perlu juga saya sampaikan bahwa dalam Hindu tidak melarang merayakan Hari Valentine sejauh itu merupakan hal positif,” jelasnya.
Ditambahkanya juga hendaknya kita lebih memprioritaskan pemahaman adat dan budaya kita yang jauh lebih komplit,”Untuk itu para Bendesa Adat dan Parisada yang ada di desa untuk bersinergi dan terus mensosialisasikan hal ini serta lebih banyak mengadopsi dan menyebarluarkan buku- buku tentang yadnya dan upakara Hindu,”pinta praktisi hukum asal Desa Jagapati ini.(red).



