Karangasem

Pelaksanaan Masang Busana di Pura Agung Besakih Menuai Kontroversi, Tradisi atau Salah Kaprah?

jarrakposbali.com, KARANGASEM – Media sosial diramaikan dengan beredarnya foto sejumlah Jro Mangku yang melakukan  pemasangan busana atau wastra di sebuah palinggih di Pura Agung Besakih pada Selasa (1/04/2025).

Namun, apa yang seharusnya menjadi sebuah peristiwa sakral kini justru menjadi sorotan tajam karena dinilai tidak sesuai dengan tata cara yang telah disepakati dalam tradisi.

Pelaksanaan yang tampaknya tergesa-gesa ini tidak hanya mencoreng kredibilitas upacara keagamaan, tetapi juga merusak makna dan tujuan sebenarnya dari pelaksanaan ngayah.

Masyarakat berhak mempertanyakan apakah ini masih mencerminkan nilai-nilai luhur adat dan agama, atau justru menjadi sebuah simbol kesalahan besar yang dipaksakan demi tampilan semata.

Tindakan Jro Mangku yang naik dan duduk di atas palinggih untuk memasang wastra patut dipertanyakan, terutama apakah sudah ada izin dari Jero Mangku yang seharusnya melakukan prosesi tersebut.

Tanpa klarifikasi yang jelas, tindakan ini justru menimbulkan opini yang bias dan meragukan kesucian upacara.

Alih-alih menunjukkan niat baik, hal ini malah menciptakan kebingungan dan mempertanyakan integritas tradisi.

Kejelasan dan kehati-hatian dalam setiap langkah harus dijaga, agar tidak merusak citra sakral yang seharusnya dijunjung tinggi.

Berbagai macam masukan dan kritikan yang muncul di akun Pura Agung Besakih semakin memperlihatkan ketegangan antara pelaksanaan upacara dan harapan masyarakat.

Kritik tajam dan pendapat yang beragam mengalir deras, menandakan bahwa publik mulai mempertanyakan tidak hanya teknis pelaksanaan, tetapi juga ketidaksesuaian antara tindakan yang dilakukan dengan prinsip-prinsip keagamaan yang seharusnya dijunjung tinggi.

Akun resmi Pura Agung Besakih, sebagai wadah komunikasi, seharusnya lebih responsif dan transparan dalam menjawab keluhan ini.

Jangan sampai upacara yang seharusnya penuh dengan makna spiritual justru terjebak dalam polemik yang merusak kredibilitas dan kehormatan tempat suci tersebut.

“Masang busana itu bagian dari ayah2 yg di mandatkan ke jro mangku yg sudah kelugra.klu GK jro mku Besakih masa jro mongkey dari Sangeh yg masang busana.ayah2 jro mku di Besakih itu udah luar biasa klu GK kelugra OLIH IDA BETARA jgn coba coba naik ke sanggar tiga.itu yg perlu di pahami OLIH umat Hindu jgn uju uju berfikir yg justru mekecuh AREP menek pdhl blom tau permasalahanya.klu orang bijak berpikir harus berpijak sama kata.. mengapa…apa…siapa…mereka itu sampai brani naik ke Padma 3…klu yg bikin Brita dan ngaploud berita ini sampai naik kesana mungkin akhir ceritanya berbeda.rahayuu,” tulis salah satu taggapan  yang dikutip secarah utuh dari akun Pura Agung Besakih. .

Jika kejadian ini memang terkait dengan Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) yang dijadwalkan pada 12 April 2025 mendatang, maka perlu ada evaluasi mendalam terhadap pengelolaan dan pelaksanaan upacara. Jangan sampai, demi menyambut momen sakral tersebut, kita justru mencederai esensi dan kesucian ritual dengan tindakan yang tidak sesuai.

Kejadian ini harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk menegakkan disiplin dan menjaga penghormatan terhadap tradisi. Tidak ada ruang untuk kelalaian atau penyalahgunaan dalam upacara yang menjadi simbol kehormatan agama dan budaya. Ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki, bukan membiarkan kesalahan terus berulang.(jpbali).

Editor : Putu Gede Sudiatmika.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button