ASITA Bali: Media Kredibel Kunci Branding Pariwisata di Era Digital
I Putu Winastra tekankan literasi digital sebagai tameng melawan hoaks sekaligus senjata membangun citra positif destinasi Bali.

jarrakposbali.com, DENPASAR – Di ruang Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Bali, Jumat (8/8/2025), para insan media, akademisi, dan pelaku pariwisata berkumpul dalam satu misi, melawan hoaks di era digital.
Di tengah forum ini, Ketua ASITA DPD Bali, I Putu Winastra, tampil sebagai narasumber dengan pesan yang menggugah, media bukan hanya “penyaring” informasi, tapi juga “panggung” untuk membangun citra Bali di mata dunia.
“Hoaks di era digital bisa memukul citra pariwisata seketika. Satu berita palsu tentang keamanan atau layanan, dampaknya bisa membuat wisatawan ragu datang,” ujarnya.
Bagi Winastra, digitalisasi adalah pisau bermata dua. Satu sisi menawarkan peluang tak terbatas untuk promosi, sisi lainnya membuka celah bagi kabar bohong. Kuncinya ada pada literasi digital yang kuat dan media kredibel yang memegang teguh verifikasi fakta.
Ia mencontohkan, pemberitaan positif yang berbasis data dan cerita autentik mampu menjadi magnet promosi destinasi. Foto, video, dan narasi yang diolah secara profesional lalu disebarkan melalui kanal digital resmi dapat membentuk digital trust kepercayaan publik terhadap citra Bali.
“Branding destinasi tidak hanya soal visual indah, tapi juga konsistensi informasi yang benar. Media kredibel menjadi jembatan antara fakta lapangan dan persepsi wisatawan,” jelasnya.
Winastra juga mendorong pelaku pariwisata untuk tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi produsen konten yang bertanggung jawab.
Sinergi antara media dan pelaku industri akan mempercepat terwujudnya ekosistem informasi yang sehat sekaligus mempromosikan Bali sebagai destinasi yang aman, ramah, dan berbudaya.
Talkshow ini bukan sekadar ajang berbagi teori. Diskusi interaktif yang mengalir menyentuh isu nyata, bagaimana mengedukasi masyarakat agar menjadi “netizen kritis” dan bagaimana teknologi verifikasi fakta bisa membantu redaksi media dalam waktu singkat.
Pesan yang mengemuka, memerangi hoaks sama pentingnya dengan membangun cerita positif. Dalam pariwisata, keduanya berjalan beriringan.
Menutup sesi, Winastra mengajak semua pihak untuk melihat digitalisasi sebagai medan kolaborasi.
“Jika kita bersatu menjaga informasi, maka setiap klik yang keluar dari Bali akan menjadi undangan yang tulus untuk datang, bukan alarm untuk menjauh,” tutupnya.(jpbali).



