BeritaDenpasar

Mengeringnya Mangrove Benoa dan Serangkaian Pertanyaan Baru

DENPASAR, jarrakposbali.com – Perairan Benoa terasa sedikit berbeda pada pertengahan Februari 2026. Setiap langkah di jalur tepian memperlihatkan batang-batang mangrove yang mulai kehilangan warna hidupnya. Warga yang datang untuk memeriksa kondisi lapangan sering kali berhenti lebih lama di titik yang dulu dipenuhi daun hijau. Ada kesan kehilangan yang muncul perlahan. Bako dan prapar yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari lanskap pesisir tiba-tiba tampak rapuh.

Pengamatan yang dilakukan nelayan Simbar Segara dan para pegiat Mangrove Rangers memperlihatkan perubahan yang tidak biasa. Kedua jenis mangrove ini dikenal tumbuh lambat dan umumnya bertahan lama. Kekeringan pada ratusan pohon membuat banyak orang merasa ada sesuatu yang patut dicermati lebih jauh.

Di banyak titik, akar-akar mangrove tampak berubah. Struktur yang biasanya kokoh terlihat kering. Pertanyaan muncul lebih cepat daripada jawaban. Kondisi ini membuat perhatian publik mulai mengarah pada aktivitas di kawasan Pelindo yang berbatasan langsung dengan habitat mangrove tersebut.

Perbincangan semakin meluas setelah unggahan anggota DPR RI dari Bali, I Nyoman Parta, beredar di dunia digital. Unggahannya mengajak publik melihat masalah ini dengan pendekatan ilmiah. Ia menekankan perlunya analisis air, tanah, hingga jaringan tanaman. Kampus dengan laboratorium forensik lingkungan dipandang mampu memberi gambaran objektif tentang apa yang sedang terjadi.

Yang menarik, kabar mengenai dugaan kebocoran pipa minyak kembali muncul dalam diskusi warga. Ingatan tentang rembesan pipa yang melibatkan Pertamina pada September 2025 menjadi bagian dari percakapan. Nelayan setempat menyebut rembesan itu tidak pernah benar-benar ditangani. Rapat yang berlangsung di kantor Pelindo Benoa pada 21 Februari 2026 mempertemukan berbagai pihak yang mencoba mencari kejelasan situasi di lapangan.

Di banyak kasus, ketiadaan sistem pemantauan real-time membuat proses investigasi berjalan lebih lambat. Para pemerhati lingkungan berpendapat bahwa teknologi deteksi dini seharusnya sudah menjadi bagian dari pengawasan kawasan sensitif seperti Benoa. Pola kerusakan mangrove yang terlihat saat ini dipandang sejalan dengan ciri-ciri paparan minyak. Mereka berharap temuan ilmiah bisa mengonfirmasi atau membantah dugaan tersebut.

Dalam kerangka hukum, UU 32 Tahun 2009 memberikan aturan yang cukup jelas mengenai tanggung jawab pemulihan lingkungan. Rehabilitasi mangrove, terutama untuk jenis seperti bako, memerlukan teknik penanaman yang tidak sederhana. Proses pemulihan membutuhkan pendampingan dan waktu yang panjang agar ekosistem kembali stabil.

“Penjelasan ilmiah selalu memberi ruang yang lebih jernih dibanding dugaan. Kita perlu tahu apa penyebab pastinya agar langkah pemulihan bisa tepat,” tulis Parta dalam unggahannya, Sabtu 21 Februari 2026.

Perjalanan untuk menemukan penyebab pasti mungkin tidak berlangsung cepat. Pada akhirnya, masyarakat ingin melihat upaya yang berpijak pada data dan pengawasan lapangan yang konsisten. Mangrove Benoa menyimpan sejarah ekologis Bali. Kerusakan yang muncul hari ini menjadi pengingat bahwa alam sering memberi sinyal lebih dulu sebelum kita sempat menafsirkan risikonya. Perbincangan yang jujur dan terbuka memberi harapan bahwa kawasan pesisir ini tetap bisa dijaga agar bertahan dalam jangka panjang.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button