BeritaGianyarKeagamaan
Trending

Tumpek Landep di Pura Santi, Khusyuk Berdoa Tanpa Sampah Plastik

Kesadaran kolektif warga Payangan menghadirkan suasana suci, bersih, dan memberi contoh baru bagi pelestarian budaya Bali.

GIANYAR, jarrakposbali.com – Desa Payangan terasa berbeda saat Hari Suci Tumpek Landep tiba. Ribuan penangkil datang dengan pakaian adat terbaik, membawa canang dan gebogan, lalu memenuhi pelataran Pura Santi Kawitan I Ratu Ngurah Agung Pasek Bandesa Panca Sanak Sapta Murti. Di tengah ramainya suasana persembahyangan, ada satu hal yang diam-diam mencuri perhatian. Lingkungan pura tetap bersih, rapi, dan nyaris tanpa jejak sampah plastik.

Pemandangan ini memberi kesan mendalam. Di banyak tempat, keramaian upacara sering kali diikuti tumpukan botol minuman, bungkus makanan, atau kantong sekali pakai. Namun di pura ini, suasana justru terasa teduh. Kebersihan hadir sebagai bagian dari ritual itu sendiri.

“Kesucian pura terasa lebih utuh ketika lingkungan juga dijaga. Ini bukan sekadar tertib, tetapi bentuk penghormatan,” ujar wartawan senior I Kadek Saputra pada Senin (20/4).

Piodalan Alit yang dipuput Jro Mangku Gede I Wayan Warnata berlangsung khusyuk. Denting genta, doa-doa yang lirih, dan aroma dupa menyatu dengan halaman pura yang bersih. Banyak warga memilih menggunakan bahan alami seperti daun pisang, janur, bambu, dan wadah tradisional yang mudah terurai.

“Ada kesadaran yang tumbuh bahwa sembahyang kepada Sang Pencipta berjalan seiring dengan menjaga ciptaan-Nya,” lanjutnya.

Langkah sederhana ini membawa makna luas. Pengurangan plastik membantu menjaga area suci tetap lestari. Pada saat yang sama, kebiasaan memakai bahan tradisional menghidupkan kembali nilai-nilai lama yang sejak dulu dekat dengan kehidupan masyarakat Bali.

“Tradisi Bali sesungguhnya sudah mengenal cara hidup yang selaras dengan alam. Ketika itu dihidupkan kembali, hasilnya terasa nyata,” katanya.

Payangan memberi contoh bahwa perubahan sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama. Jika ribuan pemedek mampu menjaga kawasan pura tetap bersih dalam hari besar keagamaan, maka gerakan serupa sangat mungkin tumbuh di tempat lain.

Tumpek Landep sering dimaknai sebagai momentum mengasah ketajaman pikiran. Di Pura Santi, makna itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketajaman berpikir hadir dalam pilihan sederhana, berdoa dengan khusyuk sambil menjaga bumi tetap bersih. Pada akhirnya, doa yang tulus memang terasa lebih indah ketika tidak meninggalkan jejak sampah di tanah yang dipijak.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button