
MANGUPURA, jarrakposbali.com – Kuta bukan sekadar hamparan pasir putih, ombak yang bergulung, dan matahari terbenam yang memikat wisatawan. Kawasan yang pernah menjadi ikon kejayaan pariwisata Bali ini juga menyimpan tantangan besar: bagaimana menghidupkan kembali daya tariknya di tengah perubahan tren wisata dan kebutuhan infrastruktur yang semakin mendesak.
Di tengah upaya tersebut, Kuta Beach Festival (KBF) 2026 hadir bukan hanya sebagai panggung hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kembali optimisme pariwisata Kuta.
Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti mendampingi Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri festival yang berlangsung di Halfway Pantai Kuta, Sabtu (10/10/2026). Kehadiran kedua pimpinan daerah itu menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, legislatif, komunitas, dan pelaku usaha dalam mendorong kebangkitan kawasan wisata legendaris tersebut.
FESTIVAL BUKAN SEKADAR HIBURAN
Mengusung tema The Next Wave, Kuta Beach Festival 2026 berlangsung pada 9–11 Oktober 2026. Festival ini memadukan kekayaan budaya, kuliner, pertunjukan musik, hingga kompetisi olahraga ekstrem seperti surfing dan skateboarding.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, festival ini menjadi ruang bagi komunitas lokal untuk menunjukkan kreativitas, memperkenalkan produk, serta memperkuat keterlibatan masyarakat dalam ekosistem pariwisata.
Namun, kemeriahan sebuah festival tentu tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan destinasi. Di balik panggung musik dan aktivitas wisata, ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan: menciptakan kawasan yang tertata, nyaman, mudah diakses, dan mampu memberikan pengalaman lebih baik bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.
Di sinilah festival dan kebijakan penataan kawasan harus berjalan beriringan.
ANOM GUMANTI: KUTA HARUS BERGERAK BERSAMA
Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menilai kebangkitan pariwisata Kuta membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, kreativitas komunitas perlu mendapat ruang, sementara dukungan pemerintah harus diwujudkan melalui kebijakan yang memberikan manfaat jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa DPRD Badung mendukung langkah pemerintah daerah dalam menata kawasan Kuta secara bertahap, termasuk menyiapkan kantong parkir untuk menunjang ketertiban dan kenyamanan kawasan pantai.
“Jika ingin mengembalikan kejayaan pariwisata Kuta seperti dulu, seluruh stakeholder harus bergerak bersama. Kami di legislatif pasti mendukung penuh kebijakan Bapak Bupati. Pembangunan kantong parkir mungkin belum langsung dirasakan manfaatnya sekarang, namun jangka panjangnya akan sangat besar untuk ketertiban wilayah,” tegas Anom Gumanti.
Pernyataan tersebut menempatkan penataan infrastruktur sebagai bagian penting dari upaya membangun kembali daya saing Kuta. Sebab, destinasi wisata yang kuat bukan hanya ditentukan oleh banyaknya acara, melainkan juga oleh kualitas fasilitas, kenyamanan pengunjung, dan keteraturan kawasan.
Bagi Kuta, kebangkitan bukan semata-mata tentang mengulang kejayaan masa lalu. Tantangannya adalah membangun wajah pariwisata yang lebih tertata, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan generasi wisatawan berikutnya.
ADI ARNAWA MATANGKAN PENATAAN INFRASTRUKTUR
Sementara itu, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memandang kegiatan seperti Kuta Beach Festival sebagai bagian dari upaya menggerakkan kembali daya tarik wisata Kuta.
Namun, ia menegaskan bahwa penyelenggaraan acara harus berjalan seiring dengan pembenahan kawasan. Pemerintah Kabupaten Badung kini berfokus pada penataan pedestrian, penyediaan kantong parkir, serta perencanaan transportasi publik.
Menurutnya, pembenahan tersebut harus dilakukan secara bertahap dan saling mendukung. Transportasi publik, misalnya, tidak akan berjalan efektif apabila perjalanan masih terkendala kemacetan yang menghambat mobilitas masyarakat dan wisatawan.
“Event ini memberi wadah komunitas untuk unjuk gigi, otomatis menarik wisatawan. Penataan kantong parkir kami siapkan agar acara nyaman dinikmati masyarakat tanpa macet. Saya mengambil kebijakan secara runut, bahwa transportasi publik tidak akan efektif tanpa hak istimewa (privilege) bebas macet. Terlebih, Kuta kini masuk kawasan rendah emisi (low emission), sehingga ke depan berpotensi diterapkan kebijakan car free night,” ucapnya.
Arah kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan Kuta tidak cukup ditopang oleh promosi dan agenda hiburan. Kualitas ruang publik, sistem mobilitas, dan pengelolaan kawasan juga menjadi faktor penentu.
Apabila dirancang dan diterapkan secara konsisten, penataan ini berpotensi menciptakan pengalaman wisata yang lebih nyaman sekaligus mengurangi tekanan lalu lintas di kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas pariwisata Bali.
THE NEXT WAVE, HARAPAN GENERASI BERIKUTNYA
Bagi Ketua Panitia Kuta Beach Festival, Nyoman Asti Adi, tema The Next Wave membawa pesan tentang tanggung jawab generasi sekarang dalam membangun masa depan.
Festival ini tidak hanya dimaksudkan untuk menghadirkan keramaian selama tiga hari, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas generasi melalui komunitas surfing, skateboard, pelaku UMKM, dan berbagai elemen masyarakat.
“Terima kasih atas dukungan penuh Bupati dan Ketua DPRD Badung. Tujuan kami ingin memajukan kembali wisata Kuta yang belakangan mulai melandai sepi. Melalui kolaborasi komunitas surfing, skateboard, hingga pelaku UMKM, festival ini hadir agar bisa dinikmati lintas generasi,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan Kuta untuk memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata yang hidup, kreatif, dan tetap berakar pada masyarakat lokal.
Komunitas bukan sekadar pengisi acara. Mereka merupakan bagian dari denyut kehidupan kawasan yang dapat menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, keberlanjutan festival dan ruang bagi kreativitas lokal perlu berjalan seiring dengan penataan kawasan yang terencana.
MENATA KUTA, MENJAGA MASA DEPAN PARIWISATA
Kuta Beach Festival 2026 turut dihadiri anggota DPRD Badung I Nyoman Graha Wicaksana, jajaran organisasi perangkat daerah terkait, Camat Kuta I Made Agus Suantara beserta unsur Tripika Kecamatan, Bendesa Adat Kuta I Komang Alit Ardana, perwakilan BPD Bali Cabang Mangupura, serta tokoh masyarakat setempat.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan Kuta membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah menyiapkan arah kebijakan, legislatif menjalankan fungsi dukungan dan pengawasan, sementara masyarakat, komunitas, serta pelaku usaha menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Pada akhirnya, keberhasilan membangkitkan Kuta tidak dapat diukur hanya dari meriahnya festival atau ramainya kunjungan sesaat. Ukuran yang lebih penting adalah apakah kawasan ini semakin tertata, apakah wisatawan merasa nyaman, apakah masyarakat lokal memperoleh manfaat, dan apakah aktivitas ekonomi dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Kuta memiliki sejarah panjang sebagai ikon pariwisata Bali. Kini, tantangannya bukan sekadar mengembalikan kejayaan yang pernah ada, melainkan membangun masa depan yang lebih baik.
Melalui dukungan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, langkah penataan yang disiapkan Bupati I Wayan Adi Arnawa, serta kreativitas komunitas yang digaungkan melalui Kuta Beach Festival 2026, harapan itu kembali menemukan ruang.
Sebab, gelombang baru pariwisata Kuta tidak cukup dibangun di atas panggung festival. Ia harus tumbuh dari kolaborasi, infrastruktur yang memadai, tata kelola yang konsisten, dan komitmen bersama untuk menjaga masa depan pariwisata Bali.Catatan redaksi. (JpBali).



