Ajegkan Budaya Bali, Desa Adat Sangeh Selenggarakan Bulan Bahasa Bali

MANGUPURA, jarrakposbali.com | Meskipun masih diliputi suasana Pandemi Covid-19 pemerintah Provinsi Bali senantiasa konsisten dan secara berkesinambungan melakukan berbagai upaya untuk mengajegkan atau melestarikan adat dan budaya Bali yang kental bernafaskan Agama Hindu dan sebagai wujud nyata dalam implementasikan program tersebut, Minggu (27/02/2022) Desa Adat Sangeh menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali IV di balai wantilan Desa Adat Sangeh.
Dalam kegiatan Bulan Bahasa Bali IV ini melombakan tiga jenis kegiatan yaitu : Lomba Nyurat Aksara Bali dengan melibatkan anak-anak tingkat Sekolah Dasar, Lomba Membaca Lontar Aksara Bali yang pesertanya anak- anak remaja (Sekaa Teruna) dan Lomba Mesatua Bali ( Bercerita dalam Bahasa Bali).

Sehari sebelumnya, Sabtu (26/02/2022) semua peserta dari semua kategori lomba diberikan pembinaan singkat untuk lebih memantapkan kemampuan di samping bertujuan memberikan arahan teknis pelaksanaan lomba oleh tim juri dari Kabupaten Badung.
Lomba yang dimulai pukul 09.00 Wita tersebut diikuti oleh wakil dari masing- masing Banjar Adat yang mana Desa Adat Sangeh membawahi lima Banjar Adat.
Lomba tersebut berakhir pukul 12.00 Wita dan yang berhasil keluar sebagai juara yaitu wakil dari Banjar Adat Pemijian dengan menggondol dua juara l yaitu Ni Nyoman Sriati,S.Pd.AUD dalam Lomba Mesatua Bali dan Ni Putu Dian Lestarina Putri peserta Lomba Ngewacen Aksara Bali. Sementara juara l untuk Lomba Nyurat Aksara Bali disabet oleh oleh wakil dari Banjar Adat Sibang atas nama Ni Luh Gde Resya Arywangsha Dangin. Untuk hadiah para pemenang berupa piagam dan dana pembinaan langsung diserahkan oleh Bendesa Adat Sangeh, I Gusti Agung Bagus Adiwiputra.

Dalam wawancara singkat di sela-sela kegiatan lomba, Adi Wiputra menerangkan bahwa tema Bulan Bahasa Bali lV di Desa Adat Sangeh kali ini mengambil tema Danu Kertih. “Seperti yang sudah Titiang sampaikan dalam pembukaan tadi, kita mengusung tema Danu Kertih yang berhubungan dengan air. Lalu ada istilah Gitaning Toya Ening(nyanyian air jernih), di mana di saat air itu jernih dan suci itu sebagai indikasi bahwa semua aspek kehidupan di lingkungan sumber mata air tersebut entah hutan,gunung dan yang lain terpelihara dengan baik. Begitu juga sebaliknya, “ungkap Adi Wiputra.
Ditanya kaitannya dengan pelaksanaan Bulan Bahasa ini, Putra Sulung I Gusti Agung Nyoman Winda, dosen beberapa sekolah pariwisata ini mengatakan cukup banyak. “Memang antara toya ning(air jenih) dengan apa yang kita lombakan saat ini banyak kaitannya. Di mana kalau pikiran sudah jernih( ning) niscaya suara gegitan( nyanyian dan irama) yang keluar tentunya akan sempurna, indah didengar dan indah dirasa. Lalu mengenai motif dari Bulan Bahasa ini di antaranya untuk meningkatkan kemampuan kita khususnya dalam kesusastraan Bali sehingga kita sebagai generasi penerus mampu mengajegkan atau melestarikannya sebagai warisan yang adiluhung agar tidak sampai pudar. “pungkas Bendesa Adat Sangeh yang ramah ini.

“Perlu juga Titiang informasikan di sini, untuk tahun- tahun berikutnya pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ini Titiang akan libatkan Pemuda sebagai Panitia, sedangkan Titiang selaku Para Juru cukup sebagai penuntun. Kenapa demikian? Karena para pemudalah yang akan melanjutkan untuk memegang tongkat pelestarian Budaya Bali, “imbuhnya mengakhiri perbincangam dengan awak media. (asa)



