BeritaGianyar

Kepergian Ida Begawan Blebar dan Jejak Pengabdiannya

GIANYAR, jarrakposbali.com – Pada sebuah siang yang tenang di Gianyar, kabar duka datang dari RSUD Sanjiwani. Agung Bharata yang dikenal masyarakat sebagai mantan Bupati Gianyar dua periode dan kemudian menempuh jalan spiritual sebagai Ida Begawan Blebar, berpulang pada usia 76 tahun 8 bulan. Kabar ini menyentuh banyak orang yang pernah melihat cara beliau bekerja maupun berdoa.

Sering kali seseorang meninggalkan jejak yang terbentuk dari perjalanan panjang. Dalam kasus Agung Bharata, jejak itu terlihat dari masa pengabdiannya di istana hingga masa pengabdiannya sebagai kepala daerah. Beliau pernah menghabiskan bertahun-tahun di Sekretariat Negara dan kemudian dipercaya memimpin Istana Kepresidenan Tampaksiring. Pengalaman tersebut menjadi fondasi yang membentuk cara beliau memandang tugas publik.

“Beliau sempat membaik dan pulang, tetapi kondisi kembali menurun,” ucap Wabup Anak Agung Gde Mayun yang mendampingi proses perawatan sejak awal, Minggu (22/2).

Kadang perjalanan hidup membawa seseorang ke ruang batin yang lebih hening. Setelah masa jabatannya berakhir, beliau lebih sering berada dalam suasana seperti itu. Hari-hari diisi dengan penyucian diri, pembelajaran Weda, dan praktik wanaprastha yang mengajak seseorang menjauh dari hiruk pikuk dunia luar. Di banyak cerita keluarga, beliau tampak menikmati masa ini dengan ringan dan sederhana.

“Piranti yang digunakan menyesuaikan status beliau sebagai dwijati,” ujar Anak Agung Gde Mayun yang hadir bersama Penglingsir Puri Bitera A A Alit Asmara dan Penglingsir Puri Batuan Anak Agung Gde Bagus.

Rangkaian upacara pelebon telah tersusun. Pada 3 Maret digelar mesiram dan melelet. Selanjutnya 5 Maret berlangsung munggah ngaskara lan ngaturan ayaban. Puncaknya pelebon akan dilaksanakan pada 7 Maret di Setra Beng yang menjadi titik penghormatan terakhir. Prosesi menggunakan padma dan lembu putih yang mencerminkan status beliau sebagai dwijati setelah menjalani madwijati.

Pada akhirnya, kepergian Ida Begawan Blebar menjadi momen refleksi bagi masyarakat Gianyar. Banyak yang mengenang beliau sebagai sosok yang menempuh jalan pelayanan dan kemudian jalan sunyi. Dua perjalanan yang bertemu pada satu titik, yakni pengabdian. Dalam ingatan banyak orang, beliau tetap hadir sebagai pemimpin yang menjaga dharma dan sebagai sulinggih yang memilih ketenangan sebagai penutup perjalanan hidupnya.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button