Puncak Pekan Budaya Gianyar Meriah, Seniman Tampilkan Karya Terbaik
Pawai budaya dan ogoh-ogoh dari seluruh kecamatan jadi penutup semarak HUT ke 255 Kota Gianyar.

GIANYAR, jarrakposbali.com – Suasana Kota Gianyar dipenuhi semangat seni dan budaya saat puncak Pekan Budaya Gianyar digelar, Jumat (17/4). Seniman dari seluruh kecamatan menampilkan karya terbaik melalui pawai budaya yang memikat, dilanjutkan parade ogoh-ogoh megah yang disambut antusias masyarakat.
Malam mulai turun di Gianyar, namun semangat warga justru semakin terasa. Suara gambelan menggema di sepanjang jalan, menyatu dengan tepuk tangan penonton yang memenuhi sisi rute pawai. Satu per satu peserta tampil membawa warna, gerak, dan cerita yang lahir dari kreativitas para seniman lokal.
Puncak Pekan Budaya Gianyar tahun ini terasa istimewa. Setiap penampilan hadir dengan persiapan matang, sentuhan inovasi, serta kolaborasi yang memperlihatkan kekuatan tradisi yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Yang menarik, parade ogoh-ogoh dari seluruh kecamatan menjadi magnet tersendiri. Bentuknya megah, detailnya memikat, dan setiap karya seolah membawa identitas wilayah masing-masing. Banyak warga memilih bertahan hingga akhir acara hanya untuk menikmati seluruh rangkaian pertunjukan.
Pawai Budaya dibuka secara meriah oleh Duta Kecamatan Payangan melalui garapan Buana Purnaning Jiwa yang bermakna penyempurnaan jiwa dalam pemuliaan alam. Selanjutnya, Duta Kecamatan Sukawati menampilkan garapan tematik Dukuh Pengubengan, yang terinspirasi dari cerita rakyat tentang ritual pengingat atas perang di Banjar Negari, Desa Singapadu Tengah.
Duta Kecamatan Tampaksiring menghadirkan garapan Sastra Winaya Tirtha, yang dimaknai sebagai tuntunan suci yang mengalir laksana air, menyucikan raga dan menuntun jiwa menuju kemuliaan.
Sementara itu, Duta Kecamatan Tegallalang menampilkan garapan bertajuk Atma Kerti Ning Tegallalang yang mengisahkan krisis spiriual dan ekologi yang melanda Desa Tegallalang, di mana kemarau panjang mengakibatkan flora dan fauna layu, serta memicu kegaduhan ditengah masyarakat.
Duta Kecamatan Ubud turut memukau dengan konsep mobile performance yang mengangkat perjalanan spiritual Rsi Markandeya. Pertunjukan tersebut memanfaatkan ruang jalan sebagai simbol tahapan transformasi jiwa.
Penampilan berlanjut dari Duta Kecamatan Blahbatuh dengan garapan Bebed Poleng yang mengisahkan perjalanan Ni Luh Ayu Sekarini mengandung putra Maha Patih Gajah Mada. Bebed Poleng, adalah pengingat yang diberikan oleh Patih Gajah Mada agar kelak putranya datang dan menemuinya ke Majapahit dengan membawa Bebed Poleng.
Penampilan Duta Kecamatan Gianyar menjadi pagelaran terakhir dengan garapan Sudhamala, yang bermakna penyucian atau pelepasan dari segala dosa, sebelum dilanjutkan dengan Pawai Ogoh-ogoh 7 kecamatan se-Kabupaten Gianyar.
Pawai Ogoh-ogoh menampilkan ogoh-ogoh Mecaru garapan STT. Sekar Jaya Banjar Serongga Tengah sebagai juara Harapan IV. Dilanjutkan dengan ST. Abdi Pertiwi Mandala, Banjar Gelgel, Blahbatuh sebagai juara Harapan III yang bertajuk Bhuta Cuil. Juara Harapan II diraih ST. Satria Pajarakan, Banjar Triwangsa, Keliki, Tegallalang dengan ogoh-ogoh berjudul Mlempeh.
Juara Harapan I diraih oleh ST. Rama Sita, Banjar Sanding, Bitera, Tampaksiring dengan ogoh-ogoh berjudul Dadap Wong. Selanjutnya, penampilan memukau dari juara III oleh ST. Giri Manila Sari, Banjar Susut, Payangan dengan judul Bhuta Sigug.
Kemeriahan berlanjut, penampilan ST. Eka Susila dengan ogoh-ogoh bertajuk Bhauma Suara yang berhasil menyabet juara II. Dan, perhelatan Pekan Budaya Gianyar ditutup oleh penampilan spektakuler dari ST. Pandawa, Banjar Tarukan, Mas Ubud, yang bertajuk Tugu Mayang.
Bupati Gianyar I Made Mahayastra menyampaikan bahwa Pawai Budaya tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah tuntunan nilai, sebuah manifestasi bhakti dan rasa hormat kepada warisan leluhur yang adi luhung. Gianyar sebagai jantung seni dan budaya Bali memikul tanggung jawab historis dan kultural untuk menjaga kesinambungan tradisi, sekaligus menumbuhkan kreativitas dalam bingkai kearifan lokal.
“Oleh karena itu, apa yang kita hadirkan hari ini sejatinya merupakan pengejawantahan dari ajaran luhur Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Di sinilah budaya menjadi penyangga utama jati diri bangsa, bukan sekadar simbol, tetapi menjadi roh yang menghidupkan peradaban,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bupati Mahayastra mengungkapkan bahwa partisipasi 7 kecamatan se-Kabupaten Gianyar, serta parade ogoh-ogoh terbaik, adalah cerminan dari daya cipta, rasa, dan karsa masyarakat Gianyar yang tidak pernah padam. Hal tersebut merupakan bukti bahwa budaya di Gianyar hidup, tumbuh, dan diwariskan dengan penuh kesadaran dan kebanggaan.
“Momentum peringatan HUT ke-255 Kota Gianyar ini hendaknya kita jadikan sebagai refleksi sekaligus pijakan untuk melangkah ke depan. Saya mengajak seluruh masyarakat Gianyar untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat gotong royong, meningkatkan kualitas kreativitas, serta tidak henti-hentinya menjaga kelestarian lingkungan, sebagai bagian dari tanggung jawab kita kepada generasi mendatang,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Prananda Prabowo, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta dan Bupati/Walikota se-Bali yang turut membuka Pawai Budaya dengan memanah anyaman patung yang bermakna menuju Gianyar ke arah yang sejahtera, aman, dan nyaman. (JpBali).



