Cegah Banjir, Waduk Muara Nusa Dua Mulai Dikeruk
BWS Bali Penida bersama masyarakat Desa Pemogan mencari solusi untuk tekan risiko banjir di hilir Tukad Badung.

jarrakposbali.com, DENPASAR – Di sebuah sore yang teduh di Balai Banjar Kajeng, wajah-wajah lelah bercampur harap tampak memenuhi ruangan. Mereka adalah warga Desa Pemogan yang baru dua pekan lalu berjuang melawan banjir besar yang merendam rumah dan jalan. “Air waktu itu masuk sampai setinggi lutut, anak-anak kami ketakutan,” kenang seorang ibu rumah tangga. Luka itu masih terasa, tapi kini ada secercah optimisme ketika kabar pengerukan Waduk Muara Nusa Dua akhirnya dimulai.
Rapat evaluasi pascabanjir pada Jumat, 19 September 2025, menjadi wadah curhat sekaligus forum mencari solusi. Warga menyuarakan agar normalisasi Tukad Badung dan pengerukan waduk tidak hanya dilakukan sesaat, melainkan rutin dan berkesinambungan.
“Sedimentasi di Waduk Muara Nusa Dua memang sudah cukup tinggi, sehingga kapasitas tampungan berkurang. Kami melakukan pengerukan rutin, namun terkendala lahan pembuangan sedimen yang terbatas,” jelas Gunawan Suntoro, Kepala BWS Bali Penida, Senin (29/9/2025).
Keterbatasan lahan pembuangan memang menjadi pekerjaan rumah besar. Saat ini hanya tersedia sekitar 1.200 m² dengan daya tampung 5.000–6.000 m³. Karena itu, BWS Bali Penida berharap ada dukungan dari pemerintah desa untuk menyiapkan lokasi tambahan. Di sisi lain, Pemkot Denpasar juga turun tangan memperbaiki alur Tukad Badung yang rusak akibat banjir, terutama di titik tebing yang jebol dekat permukiman.
“Pertama, atas nama masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada BWS atas langkah-langkah yang sudah dilakukan. Harapan kami, agar normalisasi waduk dan sungai dilakukan rutin, sebagai antisipasi banjir,” ujar I Made Suwirya, Perbekel Desa Pemogan.
Bagi masyarakat Pemogan, pengerukan waduk bukan hanya soal teknis pekerjaan, tapi juga janji akan rasa aman. Mereka tak ingin peristiwa 10 September terulang kembali, saat air meluap dan memutus aktivitas warga. Dengan adanya evaluasi bersama, diharapkan lahir komitmen bersama untuk lebih sigap menghadapi musim penghujan.
“Dengan adanya pengerukan waduk serta perbaikan alur sungai, risiko banjir di kawasan hilir diharapkan dapat ditekan. Lebih dari itu, langkah ini memulihkan kembali rasa aman warga,” tegas Gunawan Suntoro.
Langkah BWS Bali Penida yang bersinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat menjadi titik terang pascabanjir. Warga Pemogan kini kembali menata kehidupan dengan harapan banjir bukan lagi menjadi “tamu tak diundang” setiap musim hujan. Dari pengerukan waduk hingga perbaikan alur sungai, semua bergerak dengan tujuan sama: menjaga keselamatan dan ketenangan hidup warga di hilir Tukad Badung.(JpBali).



