BeritaMangupura

Langkah Pagi di Legian, Saat Pemerintah dan Warga Menata Ulang Cara Mengelola Sampah

MANGUPURA, jarrakposbali.com – Pada 3 April 2026 Pagi di kawasan Jalan Legian terasa sedikit berbeda. Di antara lalu lintas yang mulai ramai, terlihat sekelompok orang berjalan menyusuri jalan protokol sambil memungut sampah satu per satu.

Dalam kegiatan korvey tersebut, I Wayan Adi Arnawa tidak hanya memimpin aksi bersih-bersih. Ia juga beberapa kali berhenti, masuk ke area usaha dan rumah warga. Pada momen seperti itu, percakapan terjadi dengan sederhana, membahas hal yang sering kali dianggap kecil, yaitu pemilahan sampah dari rumah.

Di banyak kasus, kebiasaan ini memang belum sepenuhnya terbentuk. Beberapa warga masih mencampur sampah organik dan anorganik. Ada juga pelaku usaha yang belum memiliki sistem pengelolaan yang jelas. Situasi ini kemudian menjadi ruang dialog langsung antara pemerintah dan masyarakat.

Yang menarik, pendekatan yang digunakan terasa lebih seperti edukasi daripada penegakan. Penjelasan diberikan secara langsung di tempat, sambil menunjukkan bagaimana langkah sederhana bisa memberi dampak yang lebih luas.

Namun di sepanjang jalan, rombongan juga menemukan hal yang sudah lama menjadi perhatian, yaitu sampah liar di pinggir jalan. Tumpukan kecil yang muncul di beberapa titik menunjukkan bahwa masih ada kebiasaan membuang sampah sembarangan yang belum berubah.

Kondisi ini menjadi catatan tersendiri. Sering kali, persoalan bukan hanya pada sistem, tetapi juga pada konsistensi perilaku sehari-hari.

“Kita ingin mulai dari sumbernya. Kalau pemilahan sudah dilakukan dari rumah dan tempat usaha, pengelolaan berikutnya akan jauh lebih ringan,” ujar I Wayan Adi Arnawa di sela kegiatan.

Kehadiran I Made Sada dalam kegiatan ini juga menunjukkan bahwa isu sampah tidak berdiri sendiri sebagai urusan teknis. Ada peran pengawasan dan dukungan kebijakan yang berjalan berdampingan di lapangan.

Sering kali, kegiatan seperti ini memberi gambaran nyata tentang kondisi sebenarnya. Data bisa disusun di atas kertas, tetapi situasi di jalan menghadirkan cerita yang lebih lengkap.

Usai kegiatan korvey, langkah berpindah ke Wantilan Pura Dalem Desa Adat Legian. Di sana, diskusi berlanjut dalam bentuk rapat evaluasi terkait percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber.

Pada akhirnya, upaya ini terlihat seperti rangkaian yang saling terhubung. Dari jalan, ke rumah warga, lalu ke ruang rapat. Semua mengarah pada satu hal yang sama, yaitu membangun kebiasaan baru yang mungkin sederhana, tetapi membutuhkan konsistensi dari banyak pihak.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button