BeritaBulelengDaerahNasional
Trending

Hadiah HUT ke-78 RI dari Buleleng, Buku Ensiklopedia Soekarno

Dirangkum dari Berita Pers 1927-1970

SINGARAJA, jarrakposbali.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Republik Indonesia (RI) tahun 2023 ini terasa berbeda, lantaran ada hadiah spesial dari Kabupaten Buleleng.

Hadiah spesial ini berupa buku ensiklopedia Presiden RI pertama, Sukarno; yang di-launching pada hari Rabu, 16 Agustus 2023 di Baleagung, Buleleng, Bali yang merupakan tempat asal ibu Bung Karno, Nyoman Rai Srimben.

Pemrakarsa buku Ensiklopedia Soekarno, Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG., menjelaskan bahwa pembuatan buku ini sebagai bentuk rasa cinta dan bakti kepada tokoh proklamator itu. Pria yang akrab disapa Dokter Caput itu, juga melandasi diri dengan slogan ‘Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Jasa Para Pahlawan.’

Hal ini pula yang membuatnya merasa terpanggil untuk mewujudkan karya mengenai perjalanan hidup ayah dari Megawati Soekarnoputri. Juga sebagai hadiah untuk Bung Karno, keluarga Baleagung, dan Indonesia pada HUT RI tahun 2023 ini.

“Kita tahu Bung Karno tidak hanya dikenal di Indonesia tapi juga dunia. Yang menginspirasi, bahwa Bung Karno juga orang Buleleng. Saya terpanggil untuk mewujudkan karya ini,” jelas pria yang juga selaku Ketua DPC BMI Kabupaten Buleleng.

Dokter Caput memaparkan bahwa buku ensiklopedia ini menceritakan tentang perjalanan Bung Karno dari tahun 1927 sejak namanya mulai disebut hingga menghembuskan nafas terakhir, yang dirangkum dari berita-berita pers.

Ia berharap agar buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami sosok Sukarno hingga mengenai ideologinya. Sehingga ide, gagasan, ajaran, hingga nilai-nilai yang ditelurkannya kembali membumi.

“Kita sudah saksikan bersama ada 15 jilid yang terkumpul dalam satu seri ensiklopedia yang mencakup semuanya tentang perjalan Bung Karno yang ada dalam berita pers, yang mungkin banyak dari kita semua tidak tahu,” tuturnya.

Buku Ensiklopedia Sukarno yang diprakarsai Dokter Caput
Buku Ensiklopedia Sukarno yang diprakarsai Dokter Caput. Foto: Franz Jr.

Sementara itu, Koordinator Penyusun Buku Ensiklopedia Soekarno, Prof. Dr. Nurinwa Ki. S. Hendrowinoto; menyebutkan pihaknya melibatkan delapan orang sarjana untuk melakukan riset dan penyusunan buku yang bersumber dari berita-berita pers di Perpustakaan Nasional selama kurang lebih enam bulan lamanya.

Tak hanya mendapatkan data dari Perpustakaan Nasional, Prof. Nurinwa bersama tim juga mencari langsung kliping berita Bung Karno di tahun 1927-1970 ke perusahaan pers.

“Perkiraan ada 5000-6000 kliping dari dalam dan luar negeri yang terbagi menjadi beberapa jaman, salah satunya saat kejatuhan Sukarno,” ujarnya.

Akademisi asal Surabaya ini mengatakan bahwa data-data mengenai tokoh proklamator ini sudah terkumpul sejak tahun 2002, saat ia menyusun buku novel tentang kisah cinta Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ni Nyoman Rai Srimben, orang tua Sukarno; dengan judul Stamboel Cinta dari Bali.

Prof. Nurinwa juga melakukan riset ke Baleagung untuk mencari data dan informasi mengenai Raden Soekemi, Nyoman Rai Srimben, juga Sukarno.

Namun karena tidak ada kejelasan mengenai kelanjutan ensiklopedia ini, Prof. Nurinwa pun akhirnya menganggap karya ini ‘mati suri.’ Bahkan ia menunda memberikan data-datanya saat diminta oleh Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional.

“Akhirnya dari pak Narda menemukan Dokter Caput dan keduanya belum yakin bentuk Ensiklopedia Bung Karno dan melihat barang yang saya anggap mati suri dan beliau tertarik. Karena itu kita buat dan perbaharui datanya, saya pikir jadi 11 jilid ternyata 15 jilid,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, Dewa Made Mahayadnya; yang juga hadir, berharap dengan adanya buku Ensiklopedia Soekarno, dapat membangkitkan serta memunculkan ide, gagasan, serta ajaran Bung Karno. Ia juga berharap agar buku ini dapat berlanjut dan berseri.

“Ini penting bagi kita di Buleleng karena Indonesia dan dunia mencatat bahwa tokoh dan mantan Presiden RI pertama berdarah Buleleng, ibunya dari Baleagung,” tegas pria yang akrab disapa Dewa Jack.

“Generasi muda harus melanjutkan semangat perjuangan, kobaran api semangat Bung Karno sekarang di masa teknologi, demi jayanya Indonesia,” lanjutnya. (fJr/JP)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button