
JEMBRANA, jarrakposbali.com | Nelayan di Jembrana, sejak dua hari belakangan ini mulai biasa bernafas lega. Pasalnya, cuaca di perairan laut Jembrana sudah mulai membaik dan mereka sudah mulai bisa melaut untuk mencari ikan.

Seperti yang dilakukan sejumlah nelayan di Desa Yehsumbul, Kecamatan Mendoyo. Ratusan nelayan yang keseluruhannya merupakan nelayan tradisional, sejak Senin, 14 Februari 2022 lalu mulai melaut. Setelah sebelumnya mereka mengganggur sekitar sebulan lebih akibat cuaca buruk.
“Ini baru mulai kemarin kami baru bisa melaut karena cuaca sudah membaik. Waktu cuaca buruk sebulan lebih kami semua nganggur, gelombang sangat tinggi, arus deras dan anggin kencang sangat membahayakan jika kami paksakan melaut,” ujar Burhaini ditemui redaksi jarrakposbali.com, Selasa (15/2/2022) sore.
Lanjutnya, beruntung sejak kemarin cuacanya sudah mulai membaik dan semua nelayan bisa kembali melaut. Menurutnya seluruh nelayan yang ada di Desa Yehsumbul adalah nelayan tradisional yang menggunakan jukul (perahu kecil dengan mesin tempel) untuk melaut. Sehingga jika ada cuaca kurang baik tidak bisa melaut.
“Kalau nelayan mideren dengan menggunakan perahu selerek mungkin masih bisa melaut dengan kondisi ombak tinggi, tapi kami nelayan tradisional tidak berani melaut. Maklum kami hanya menggunakan jukung,” paparnya.

Bersyukur, dari mulai kemarin bisa melaut, mereka bisa mendapatkan ikan yang berlimpah dan berharap cuaca di perairan laut Bali terus membaik, sehingga terus bisa melaut.
“Kali ini hasil tangkapan kami ikan layur, hasilnya lumayan. Satu jukung dalam semalam bisa mendapatkan ikan layur antara 50 sampai 100 kilo. Harganya cukup baik berkisar empat puluh ribu rupiah per kilonya,” imbuh Burhaini yang dibenarkan nelayan lainnya.
Selama cuaca buruk hingga sebulan lebih, mereka mengaku terpaksa menambatkan jukung mereka di muara sungai. Karena jika memaksakan melaut sudah pasti tidak mendapatkan ikan dan juga membahayakan keselamatan nelayan, mengingat gelombang sangat tinggi disertai angin kencang dan arus yang sangat deras.

“Waktu cuaca buruk, banyak dari kami menjadi buruh serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi ada pula yang mengunakan waktu luang itu dengan memperbaiki alat tangkap,” tutupnya.(ded)



