BeritaKlungkung

P2P Bawaslu Klungkung, Saat Anak Muda Jadi Penjaga Demokrasi

KLUNGKUNG, jarrakposbali.com – Di tengah derasnya arus informasi digital, demokrasi tak lagi hanya dipertaruhkan di bilik suara. Ia kini diuji di layar ponsel, ruang diskusi anak muda, hingga media sosial yang setiap hari dipenuhi opini, propaganda, dan disinformasi.

Dari Gedung Pemuda KNPI Klungkung,Selasa (26/5). Semangat menjaga demokrasi itu mulai dinyalakan. Bawaslu Kabupaten Klungkung menghadirkan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P), ruang belajar yang bukan sekadar bicara pemilu, tetapi tentang bagaimana generasi muda mengambil peran menjaga marwah demokrasi.

Ruang aula KNPI Klungkung siang itu dipenuhi wajah-wajah muda dari berbagai latar belakang. Siswa SMA, komunitas kepemudaan, hingga Jegeg Bagus Klungkung duduk bersama membahas satu hal penting, bagaimana demokrasi bisa tetap sehat di tengah tantangan zaman digital.

Mereka tidak hanya datang sebagai peserta seminar, tetapi sebagai calon penggerak pengawasan partisipatif di masyarakat. Diskusi berlangsung hidup ketika isu hoaks, politik uang, hingga pentingnya literasi demokrasi mulai dibedah satu per satu.

“Adik-adik kami ajak menjadi corong pengawas pemilu untuk menyebarkan informasi positif terkait pengawasan pemilu dan pilkada,” ujar Anggota Bawaslu Bali, Ketut Ariyani.

Bagi Bawaslu, pengawasan pemilu tak bisa lagi hanya mengandalkan lembaga formal. Di era media sosial, masyarakat terutama generasi muda menjadi garda terdepan untuk melawan informasi menyesatkan yang dapat merusak kualitas demokrasi.

Karena itu, Pendidikan Pengawas Partisipatif didorong bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif agar masyarakat ikut aktif mengawal proses demokrasi.

“P2P ini kami dorong sebagai ruang pembelajaran bersama agar masyarakat tidak hanya memahami demokrasi secara normatif, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam praktik pengawasan,” tegas Ariyani.

Antusiasme peserta menjadi sinyal bahwa kepedulian anak muda terhadap demokrasi mulai tumbuh. Mereka tak lagi hanya ingin menjadi penonton politik, tetapi ikut memahami bagaimana proses pemilu berjalan dan bagaimana potensi pelanggaran bisa dicegah sejak awal.

Bawaslu bahkan mendorong lahirnya komunitas-komunitas pengawas partisipatif yang bergerak secara independen di lingkungan masing-masing.

“Silakan bentuk komunitas setelah kegiatan ini. Lakukan diskusi-diskusi dan edukasi kepada masyarakat terkait kepemiluan, termasuk melalui digitalisasi informasi,” kata Ariyani.

Ketua Bawaslu Klungkung I Komang Supardika menilai pemuda memiliki posisi strategis dalam menentukan wajah demokrasi ke depan. Menurutnya, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi juga oleh kualitas generasi muda yang mengawalnya.

Karena itu, P2P menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kapasitas, keberanian, dan kesadaran kritis anak muda.

“Pemuda punya peran strategis dalam menentukan pemimpin ke depan agar demokrasi berjalan dengan baik,” ujar Supardika.

Di tengah dinamika politik yang semakin kompleks, pengawasan partisipatif dianggap menjadi energi baru dalam menjaga kedaulatan rakyat. Anak muda dinilai memiliki kekuatan besar melalui jejaring komunitas dan media sosial untuk membangun budaya demokrasi yang sehat.

Tak hanya menjadi pemilih, mereka diharapkan mampu menjadi pengingat ketika demokrasi mulai berjalan keluar jalur.

“Adik-adik adalah calon pemilih sekaligus calon pemimpin masa depan. Output kegiatan ini adalah membangun komunitas dan kolaborasi agar pengawasan partisipatif semakin kuat,” tambah Supardika.

Dari sebuah ruang sederhana di Gedung KNPI Klungkung, harapan tentang demokrasi yang lebih sehat perlahan tumbuh. Ketika anak muda mulai bergerak, berdiskusi, dan berani terlibat, pengawasan pemilu tak lagi menjadi tugas segelintir orang. Ia berubah menjadi gerakan bersama gerakan menjaga suara rakyat tetap bermartabat.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button