BangliBerita

Hutan Adat Giri Upawana Hadir sebagai Ruang Hidup Baru

BANGLI , jarrakposbali.com – Suasana Banjar Linjong terasa hangat sejak pagi. Warga tampak berkumpul di sebuah lahan yang kini mulai ditata sebagai Hutan Adat Giri Upawana. Di tempat ini pemerintah daerah dan masyarakat adat bertemu dalam sebuah langkah kecil yang sering kali menjadi penanda arah baru bagi sebuah desa. Peresmian kawasan hutan adat membawa harapan tentang lingkungan yang lebih terjaga dan desa yang semakin hidup.

Pada hari Sabtu kegiatan peresmian berlangsung melalui penanaman bibit pohon langka. Banyak pihak hadir memberi dukungan. Ada jajaran Forkopimda, tokoh adat, serta komunitas yang selama ini berkecimpung dalam pelestarian lingkungan. Nama Giri Upawana yang bersumber dari bahasa Sanskerta membawa makna hutan pegunungan dan sering kali dirasakan cocok dengan karakter Linjong yang berada di daerah hulu.

“Kami ingin Linjong tumbuh sebagai desa wisata berbasis komunitas. Masyarakat menjadi pusat dari setiap langkah pembangunan” ujar Sedana Arta, Sabtu (21/2).

Di banyak kasus pengembangan desa wisata membutuhkan fondasi sosial. Warga Linjong tampak menempatkan gotong royong sebagai pegangan utama. Wilayah seluas 98 are ini kini mulai ditata. Sebagian besar atau sekitar 70 are akan menjadi hutan adat yang difungsikan sebagai area konservasi dan ruang belajar bagi generasi muda setempat.

“Gotong royong menjadi kekuatan kami. Hutan adat ini kami bangun untuk menghidupkan alam dan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat” jelas Made Win sebagai Ketua Pokdarwis Kencana Loka.

Konsep Wana Kerthi sering kali menjadi rujukan dalam pengelolaan hutan adat. Hutan dipandang sebagai area suci sehingga perawatannya tidak hanya berbicara tentang ekologi tetapi juga penghormatan pada tradisi. Pemerintah Kabupaten Bangli melihat model ini sebagai peluang bagi desa lain yang ingin mengembangkan ruang hijau produktif.

“Dengan pendekatan komunitas, Linjong berpeluang menjadi destinasi wisata berkelanjutan yang menyeimbangkan konservasi dan peningkatan ekonomi warga” tambah Wayan Diar.

Warga Linjong tampak memberikan perhatian pada detail kecil, mulai dari penataan tanaman endemik hingga perencanaan jalur edukasi. Kadang sebuah kawasan tumbuh bukan karena proyek besar tetapi karena konsistensi masyarakat yang memeliharanya hari demi hari.

“Kami ingin wisatawan mengenal alam Linjong melalui cara yang sederhana. Mereka datang, melihat, belajar, lalu membawa pulang pemahaman tentang pentingnya menjaga alam” kata Made Win.

Pada akhirnya peresmian Hutan Adat Giri Upawana memberi gambaran tentang arah baru bagi Desa Linjong. Kawasan ini diproyeksikan menjadi ruang konservasi alami sekaligus sarana edukasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Banyak harapan tumbuh dari langkah kecil ini. Linjong bergerak perlahan dan tenang. Desa ini menjalani prosesnya sambil membangun pengaruh positif bagi lingkungan dan warga yang tinggal di sekitarnya.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button