BeritaKlungkung

I Nyoman Sugianto, Mengabdi untuk Bakas

KLUNGKUNG, jarrakposbali.com – Tidak semua orang yang ingin membangun desa lahir dari keluarga berada. Tidak semua orang yang bercita-cita memimpin tumbuh dari kemewahan. Sebagian justru ditempa oleh kesederhanaan, belajar memahami arti perjuangan dari kehidupan sehari-hari, dan mengenal denyut masyarakat dari dekat.

I Nyoman Sugianto adalah salah satunya.

Putra seorang petani dari Dusun Kangin, Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung ini tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkannya tentang arti kerja keras dan pentingnya kebersamaan. Kehidupan sederhana bukan sekadar bagian dari latar belakang keluarganya, tetapi juga menjadi ruang tempat nilai-nilai perjuangan dan pengabdian tumbuh.

Perjalanan hidup Sugianto tidak berhenti pada upaya memenuhi kebutuhan keluarga. Ia menekuni usaha transportasi dan membuka warung yang menjadi tempat anak-anak muda berkumpul, berbincang, serta bertukar pikiran.

Dari kehidupan sehari-hari itulah ia berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, mendengar cerita, menyaksikan dinamika kehidupan warga, sekaligus melihat harapan generasi muda terhadap masa depan desanya.

Kini, dorongan dari kalangan generasi muda menjadi salah satu energi yang menguatkan langkahnya untuk maju dalam Pemilihan Perbekel Desa Bakas.

Baginya, keinginan untuk maju bukan semata-mata tentang jabatan, melainkan tentang kesempatan untuk mengambil bagian lebih besar dalam pembangunan desa.

“Saya berasal dari keluarga petani. Dari kehidupan sederhana, saya belajar bahwa perjuangan membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan ketulusan. Pengalaman hidup itulah yang mengajarkan saya untuk menghargai setiap pekerjaan dan memahami bahwa kemajuan desa harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” paparnya.

Bukan Sekadar Ingin Duduk di Kursi Perbekel

Keputusan untuk maju dalam Pilkel Desa Bakas tentu bukan langkah kecil. Jabatan perbekel bukan sekadar posisi dalam struktur pemerintahan desa, melainkan amanah yang menuntut kemampuan memimpin, keberanian mengambil keputusan, serta kesediaan mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat.

Di tengah dinamika kehidupan desa yang terus berkembang, masyarakat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu berbicara tentang pembangunan, tetapi juga memahami persoalan warga dan bersedia bekerja mencari jalan keluarnya.

Sugianto membawa latar belakang kehidupan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sebagai pelaku usaha transportasi dan pemilik warung, ia menjalani kehidupan di tengah aktivitas ekonomi dan pergaulan warga.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang mendorongnya untuk mengambil peran lebih besar bagi Desa Bakas.

“Bagi saya, maju dalam pemilihan perbekel bukan semata-mata tentang jabatan, tetapi tentang bagaimana saya bisa mengabdikan diri dan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi Desa Bakas. Saya lahir dan tumbuh di desa ini. Saya ingin ikut mengambil bagian dalam membangun desa yang lebih baik, bersama masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Pernyataan itu menggambarkan satu hal penting: keinginan mengabdi harus berangkat dari kesadaran bahwa desa bukan milik satu golongan, satu kelompok, atau satu generasi. Desa adalah ruang hidup bersama yang kemajuannya membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.

Rekam Jejak Organisasi dan Pengabdian Adat

Sebelum melangkah dalam kontestasi Pilkel, Sugianto telah melewati sejumlah pengalaman dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi.

Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Ranting PDI Perjuangan Desa Bakas selama dua periode. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasinya, terutama dalam membangun komunikasi, memahami dinamika kelompok, dan menjalankan tanggung jawab bersama.

Di ranah adat dan keagamaan, Sugianto pernah dipercaya menjadi Kelian Pura Puseh. Tanggung jawab tersebut bersentuhan dengan kehidupan adat, koordinasi masyarakat, serta upaya menjaga keberlangsungan tradisi dan nilai-nilai warisan leluhur.

Rangkaian pengalaman itu memberinya kesempatan untuk terlibat dalam beberapa sisi kehidupan masyarakat Desa Bakas.

Dari organisasi, terdapat pelajaran tentang koordinasi dan kebersamaan. Dari keterlibatan dalam keamanan lingkungan, terdapat tanggung jawab terhadap ketertiban bersama. Sementara dari pengabdian di lingkungan pura, terdapat pengalaman berinteraksi dengan kehidupan adat yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Bali.

Pengalaman tersebut tentu bukan jaminan otomatis keberhasilan dalam memimpin pemerintahan desa. Namun, rekam jejak dapat menjadi salah satu bahan bagi masyarakat untuk menilai kesiapan, tanggung jawab, dan pemahaman seorang calon terhadap kehidupan sosial di lingkungannya.

“Pengalaman saya di organisasi, keterlibatan dalam Hansip, serta kepercayaan yang pernah diberikan kepada saya sebagai Kelian Pura Puseh merupakan bagian dari perjalanan pengabdian. Dari sana saya belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, dan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat. Semua pengalaman itu menjadi bekal untuk terus belajar dan berbuat lebih baik,” imbuhnya.

Pada akhirnya, pengalaman masa lalu perlu diterjemahkan menjadi kemampuan menghadapi tantangan masa kini. Masyarakat tidak hanya membutuhkan sosok yang memiliki rekam jejak, tetapi juga pemimpin yang mampu merumuskan arah pembangunan dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

Dari Warung Sederhana, Aspirasi Generasi Muda Menemukan Ruang

Ada sisi menarik dalam perjalanan Sugianto. Di tengah kesibukannya mengelola usaha transportasi, ia juga menjalankan warung yang menjadi tempat anak-anak muda berkumpul.

Warung itu mungkin bukan ruang pertemuan resmi. Tidak ada podium, meja rapat, atau susunan agenda formal. Namun, dalam kehidupan masyarakat desa, tempat berkumpul seperti itu dapat menjadi ruang interaksi yang mempertemukan berbagai cerita, pandangan, dan harapan.

Di sana, percakapan sederhana bisa berkembang menjadi diskusi tentang pekerjaan, peluang usaha, kehidupan sosial, hingga masa depan desa.

Kedekatan semacam ini menjadi menarik ketika dikaitkan dengan dorongan generasi muda agar Sugianto maju dalam Pilkel Desa Bakas.

Dorongan tersebut merupakan salah satu bagian dari dinamika sosial yang mengiringi langkahnya. Namun, dukungan itu juga menghadirkan tantangan: bagaimana aspirasi anak-anak muda dapat diterjemahkan menjadi program yang terukur dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas?

Generasi muda bukan hanya kelompok yang membutuhkan ruang berkumpul. Mereka juga memiliki potensi untuk menjadi penggerak ekonomi, pelaku kreativitas, penjaga tradisi, dan mitra pembangunan desa.

Karena itu, keterlibatan mereka perlu diarahkan pada kegiatan produktif yang membuka peluang, memperkuat kemampuan, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap masa depan Desa Bakas.

“Bagi saya, kedekatan dengan masyarakat tidak harus dibangun melalui forum resmi. Dari pertemuan sehari-hari, dari obrolan sederhana di warung, kita bisa mendengar banyak hal tentang harapan, persoalan, dan keinginan masyarakat. Saya ingin tetap menjadi bagian dari masyarakat yang mau mendengar dan terbuka terhadap masukan,” ujarnya.

Di sinilah makna kedekatan dengan masyarakat seharusnya diuji. Bukan hanya seberapa sering seseorang bertemu warga, melainkan seberapa jauh ia mampu mendengar aspirasi, memahami persoalan, dan merumuskan solusi bersama.

Desa Bakas Membutuhkan Lebih dari Sekadar Janji

Setiap kontestasi pemilihan pemimpin desa selalu menghadirkan harapan. Masyarakat menginginkan pelayanan yang baik, pembangunan yang berkelanjutan, peluang ekonomi yang semakin terbuka, serta kehidupan sosial dan adat yang tetap terjaga.

Desa Bakas memiliki potensi lokal dan kehidupan masyarakat yang menjadi modal penting untuk berkembang. Potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh warga.

Bagi siapa pun yang kelak dipercaya memimpin, tantangannya bukan hanya membangun infrastruktur. Lebih dari itu, pemerintahan desa harus mampu mendorong pemberdayaan ekonomi, memperkuat partisipasi masyarakat, membuka ruang bagi generasi muda, serta memastikan pelayanan publik berjalan dengan baik.

Sugianto memiliki kesempatan untuk menawarkan gagasan dan arah pembangunan yang ingin diperjuangkannya melalui Pilkel.

Namun, masyarakat juga berhak mengetahui secara jelas apa yang menjadi prioritasnya, bagaimana program akan dijalankan, dan bagaimana ia akan mempertanggungjawabkan penggunaan sumber daya desa.

“Desa Bakas memiliki potensi yang harus kita jaga dan kembangkan bersama. Saya ingin melihat masyarakat semakin berdaya, generasi muda memiliki kesempatan untuk berkembang, dan potensi desa dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Bagi saya, pembangunan bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” paparnya.

Gagasan tersebut akan semakin kuat apabila disertai program konkret, sasaran yang terukur, serta langkah pelaksanaan yang realistis.

Sebab, masyarakat tidak cukup hanya mendengar keinginan untuk membangun. Mereka perlu mengetahui bagaimana pembangunan itu akan diwujudkan dan siapa saja yang akan memperoleh manfaatnya.

Pengabdian Bukan Sekadar Narasi

Maju dalam Pilkel bukanlah garis akhir. Justru di situlah ujian sesungguhnya dimulai.

Seorang calon pemimpin harus siap menjelaskan gagasannya, mendengar kritik, menerima perbedaan, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Latar belakang sebagai anak petani, pelaku usaha transportasi, pemilik warung, pengurus organisasi, anggota Hansip, dan mantan Kelian Pura Puseh merupakan bagian dari perjalanan Sugianto.

Akan tetapi, rekam jejak masa lalu harus berjalan beriringan dengan visi masa depan.

Masyarakat perlu menilai bukan hanya siapa dirinya, tetapi juga apa yang ingin diperjuangkan, bagaimana ia memandang persoalan desa, dan sejauh mana ia siap mempertanggungjawabkan amanah apabila kelak terpilih.

Di sinilah pengabdian menemukan maknanya. Pengabdian bukan sekadar kata yang terdengar baik dalam masa pencalonan, melainkan komitmen yang harus tetap hidup ketika seseorang berhadapan dengan persoalan nyata masyarakat.

“Saya menyadari bahwa kepercayaan masyarakat tidak bisa diminta hanya melalui kata-kata. Kepercayaan harus dibangun dengan ketulusan, dibuktikan melalui tindakan, dan dijaga dengan tanggung jawab. Jika diberikan kesempatan untuk mengabdi, saya ingin menjadikan kepentingan masyarakat sebagai bagian utama dari setiap langkah pembangunan Desa Bakas,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kepercayaan publik bukan sesuatu yang dapat diperoleh hanya melalui kedekatan atau popularitas. Kepercayaan membutuhkan bukti, konsistensi, dan keberanian untuk bertanggung jawab.

Dari Dusun Kangin untuk Masa Depan Bakas

I Nyoman Sugianto berangkat dari kehidupan sederhana di Dusun Kangin, Desa Bakas. Ia menapaki kehidupan melalui usaha, berinteraksi dengan masyarakat, menjalani pengalaman organisasi, dan terlibat dalam kehidupan adat.

Kini, dengan dorongan generasi muda yang menjadi salah satu penyemangatnya, ia mengambil langkah untuk ikut berkompetisi dalam Pilkel Desa Bakas.

Perjalanannya menjadi bagian dari dinamika demokrasi desa, tempat masyarakat memiliki hak untuk menilai setiap calon berdasarkan rekam jejak, gagasan, integritas, dan kesungguhannya dalam mengabdi.

Pada akhirnya, masa depan Desa Bakas tidak ditentukan oleh satu orang saja. Kemajuan desa membutuhkan kepemimpinan yang bertanggung jawab, masyarakat yang aktif, generasi muda yang kreatif, serta semangat gotong royong yang terus dirawat.

Bagi Sugianto, langkah menuju Pilkel membuka kesempatan untuk membuktikan bahwa pengalaman hidup dan kedekatan dengan masyarakat dapat menjadi bekal untuk mengambil tanggung jawab lebih besar.

Namun, tekad saja tidak cukup. Ia harus diterjemahkan menjadi gagasan yang jelas, program yang realistis, dan komitmen yang dapat diuji oleh masyarakat.

Sebab, memimpin desa bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara mengenai perubahan, melainkan siapa yang paling siap mendengar, bekerja, dan mempertanggungjawabkan amanah kepada masyarakat.

Dari anak petani di Dusun Kangin, I Nyoman Sugianto kini membawa keinginan untuk ikut menentukan arah masa depan Desa Bakas. Apakah keinginan itu kelak mampu menjelma menjadi pengabdian yang nyata? Jawabannya akan ditentukan oleh gagasan, kerja, dan kepercayaan masyarakat.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button