BeritaGaya HidupLingkungan Hidup

Ini Kisah Pilu Bagus dan Bagas, Balita Kembar Lahir Prematur Ditinggal Orang Tua

BULELENG, jarrakposbali.com | Miris dan sangat memprihatinkan. Itulah gambaran nyata saat pertama bertemu dengan balita kembar Ketut Bagus Agastya Putra dan Gede Bagas Agastya Putra.

Siapapun yang melihatnya secara langsung, pastilah meneteskan air mata, akan kisahnya yang pilu dan tragis. Bagaimana tidak, balita baru berumur delapan hari, harus kehilangan bapaknya yang nekad mengakhiri bidup dengan cara gantung diri, akibat himpitan ekonomi. Sementara ibunya juga meninggalkan mereka setelah dilahirkan.

Bayi kembar yang tinggal di Banjar Lebah Pupuan, Desa Tegalinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng itu, kini diasuh oleh neneknya Luh Yastini (54), ironisnya, sang nenek adalah tergolong warga tidak mampu dan tidak punya penghasilan tetap.

Ditemui di rumah neneknya, Minggu (13/2/2022) pagi, Jero Pujangga, kerabat dekat balita kembar tersebut menuturkan, Bagus dan Bagas lahir secara prematur pada tanggal 12 Desember 2021. Begitu mereka lahir, ibunya yang bernama Luh Merta Sari Dewi (37) langsung meninggalkannya.

“Sebenarnya, ibu Bagus dan Bagas sudah pergi meninggalkan rumah dua puluh hari sebelum Bagus dan Bagas dilahirkan. Hanya saja saat melahirkan neneknya yang mengurus di rumah sakit,” tutur Jero Bujangga, Minggu (13/2/2022).

Karena Luh Merta Sari Dewi memutuskan meninggalkan rumah dan tidak mau rujuk dengan suaminya, petaka mulai muncul. Gede Eric Swandana Yasa (47), bapak dari Bagus dan Bagas, memutuskan mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, pada Kamis, 3 Februari 2022 lalu.

“Ini karena bapaknya stres ditinggal istri dan himpitan ekonomi. Maklumlah dia hanya buruh serabutan yang tidak memiliki penghasilan tetap. Mereka tergolong keluarga tidak mampu,” terang Jero Bujangga.

Tingallah kini Bagus dan Bagas diasuh oleh neneknya. Sementara neneknya juga tergolong warga tidak mampu dan tidak memiliki penghasilan tetap.

“Untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi sekarang harus merawat Bagus dan Bagas serta cucu-cucu lainnya. Untuk beli susu buat Bagus dan Bagas sering dibantu tetangga yang merasa iba,” ujar Jero Bujangga.

Sementara itu Luh Yastini, nenek dari Bagus dan Bagas mengaku sangat prihatin dengan nasib tragis yang dialami oleh cucunya itu. Kadang dia menangis kalau mengingat kisah hidup Bagus dan Bagas semenjak dilahirkan. Apa lagi dirinya tidak memiliki apa-apa untuk merawat cucu-cucunya itu.

“Saya memang miskin, tapi saya berusaha merawat kedua cucu saya yang malang ini dengan kasih sayang. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Untuk kebutuhan susunya, banyak tetangga yang membantu,” tuturnya lirih.

Kini, Luh Yastini berharap ada dermawan yang sudi membantu meringankan beban mereka. Terlebih Yastini menginginkan kedua cucunya itu bisa hidup normal dan bisa menempuh pendidikan minimal sampai SMA.

“Saya hanya bisa berharap ada bantuan dari dermawan untuk membantu kebutuhan cucu saya. Saya juga sering berdoa pada Hyang Widi agar diberikan umur panjang, sehingga bisa membesarkan Bagus dan Bagas hingga tamat SMA,” ujarnya pilu sambil meneteskan air mata, saat redaksi jarrakposbali.com berkunjung ke rumahnya.(dewa darmada)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button