Berita

Kabar Gembira, Tupeng Tugek Carangsari Akan Dipentaskan di Art Centre

MANGUNPURA. Jarrakposbali.com | Pasca berpulangnya sang maestro seniman Topeng Tugek Carangsari, I Gusti Ngurah Windia bukan berarti pupus pula keberadaan Topeng Tugek Carangsari yang sempat populer hingga ke pelosok wilayah Bali.

Menurut I Gusti Ngurah Artawan, S.Sn, putra dari sang maestro, merasa amat kehilangan sepeninggal ayah sekaligus gurunya itu.

“Memang tidak bisa dipungkiri,semenjak kepergian Ajik, tiang merasa sangat kehilangan. Betapa tidak, di samping sebagai seorang ayah, beliau sekaligus juga sebagai guru tokoh seniman topeng,” terangnya saat ditemui jarrakposbali.com kemarin.

Menurutnya, masih banyak ilmu yang belum sempat dipelajarinya dari ayahnya itu, namun sang maestro telah berpulang.

Namun, meskipun sang maestro telah berpulang, menurutnya energi dan style Topeng Tugek Carangsari selalu dikenang dan dijadikan panutan oleh generasi penerusnya.

Ditanya mengenai regenerasi, Ketua Majelis Pertimbangan Kebudayaan (Listibiya) Badung ini menjelaskan, regenerasi Topeng Tugek Carangsari telah dilakukan jauh hari sebelum almarhum berpulang.

Bahkan dibawah generasi baru, Tupeng Tugek Carangsari sudah sering dipentaskan. Generasi itu diberi nama Tupeng Tugek Carangsari Junior yang anggotanya terdiri dari beberapa seniman topeng di wilayah Badung.

“Jadi, seniman Topeng Tugek Carangsari bukan hanya dari Desa Carangsari saja, melainkan gabungan para seniman topeng di Kabupaten Badung,” ujarnya.

Ngurah Artawan mengatakan, jika ingin mengetahui bagaimana Tupeng Tugek Carangsari Junior beraksi, bisa disaksikan nanti saat pementasan di Art Centre pada 8 Juli 2022 mendatang,” imbuhnya.

Lanjutnya, disamping lebih dini membentuk regenerasi, upaya pelestarian seni topeng tersebut juga dilakukan dengan berbagai hal yang tujuannya agar budaya topeng ini bisa tetap lestari dan tetap bisa diminati masyarakat.

“Kami selaku seniman muda sekaligus pewarisnya akan selalu melanjutkan pakem (style) Topeng Tugek, berjuang dan tetap melakukan kewajiban dengan baik,” ujarnya bersemangat.

Pihaknya juga sering melakukan dialog ataupun diskusi dengan para seniman, guna mengupas energi taksu pertopengan agar tetap lestari.

Dalam kesempatan tersebut, Ngurah Artawan juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Bali yang sudah memberi ruang kepada ayahnya, I Gusti Ngurah Windia (almarhum) sehingga bisa berkarya dan digemari oleh segenap warga Bali.

Dia juga berharap dan sekaligus mengajak teman-teman seniman muda untuk saling bergandengan tangan dan tetap mencintai serta melestarikan budaya Bali.

“Jangan menjadi orang asing di rumah sendiri. Laksanam Dharmate, yang berarti lakukan saja kewajiban,” pungkasnya.

Penulis : Bratayasa
Editor : Dewa Darmada

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button