
DENPASAR, jarrakposbali.com – Hamparan terasering Jatiluwih selalu memikat siapa pun yang datang. Udara sejuk, pola sawah yang rapih, dan kehidupan subak yang masih terjaga membuat kawasan ini diakui sebagai Warisan Budaya Dunia sejak 2012.
Namun di balik keindahannya, muncul kekhawatiran: lahan sawah mulai terdesak bangunan. Di sinilah Pansus TRAP DPRD Bali turun tangan, mencoba menjaga keseimbangan antara pariwisata, budaya, dan kesejahteraan petani.
Dalam beberapa bulan terakhir, alih fungsi lahan di Jatiluwih menjadi sorotan. Pansus TRAP melihat ancaman serius terhadap karakter asli Jatiluwih sebagai lanskap budaya yang dijaga secara global.
“Keindahan sawah teras iring ini tidak punya tandingan di dunia. Kalau dibiarkan berubah, kita yang rugi,” kata Ketua Pansus TRAP, I Made Supartha.
Status Jatiluwih sebagai WBD tidak datang begitu saja; ada proses panjang, verifikasi ketat, dan penilaian berlapis dari UNESCO. Karena itu, setiap perubahan yang tidak sesuai aturan berpotensi membuat status tersebut dicabut.
“Kalau terus terbangun tanpa kendali, status WBD bisa hilang. Ini harus jadi alarm kita semua,” ujar Supartha.
Belakangan muncul reaksi warga berupa pemasangan seng dan plastik sebagai bentuk protes. Hal ini justru menimbulkan dampak buruk pada citra pariwisata.
“Sangat disayangkan sampai ada pembatalan kunjungan. Itu sama saja merusak lumbung padi sendiri,” tegasnya.
Pansus menilai perlu solusi agar pengembangan ekonomi tetap berjalan tanpa menggerus sawah. Salah satu opsi adalah menata rumah warga menjadi homestay bertaraf internasional dan mendorong wisata berbasis aktivitas pertanian.
“Kami ingin sawah terjaga, budaya tetap hidup, tapi rakyat juga harus sejahtera,” kata Supartha.
Wisata berbasis pengalaman seperti manyi, nandur, mandi lumpur, hingga menangkap belut dianggap mampu memberi pendapatan langsung bagi petani dan warga sekitar.
“Warga harus dilibatkan penuh. Jangan sampai pendapatan hanya dikuasai kelompok tertentu,” ujarnya.
Solusi lain adalah pemanfaatan badan sampi seluas 3 x 6 meter di setiap bidang sawah. Area kecil ini bisa dikembangkan sebagai kios sederhana untuk menjual kopi, jajanan lokal, atau hasil pertanian.
“Konsep ini akan dibuat artistik dan tetap milik petani. Bukan investor luar,” jelas Supartha.
Tak hanya itu, petani sebagai penjaga bentang alam akan mendapat prioritas bantuan. Mulai dari benih, pupuk, irigasi, pajak, hingga asuransi pertanian.
“Pemerintah harus hadir. Petani harus kuat, barulah sawah bisa tetap bertahan,” katanya.
Pansus juga membuka peluang insentif tambahan dari program pemerintah, termasuk beasiswa bagi keluarga petani.
“Bisa saja diberikan beasiswa satu KK satu sarjana. Ini bentuk perhatian nyata,” tambahnya.
Jatiluwih bukan hanya soal pemandangan indah. Ia adalah identitas Bali, napas budaya subak, dan sumber hidup bagi ribuan keluarga. Pengawasan Pansus TRAP menjadi langkah untuk memastikan semua itu tetap terjaga. Tantangannya besar, tetapi harapan untuk menjaga Jatiluwih tetap hidup sebagai ikon dunia masih sangat kuat.(JpBali).



