
DENPASAR, jarrakposbali.com – Di tengah harumnya dupa yang mengalun bersama lantunan doa, lembar baru perjalanan perempuan adat di Kota Denpasar resmi dibuka. Prosesi Majaya-Jaya Pasikian Paiketan Krama Istri (PAKIS) Majelis Desa Adat (MDA) Kota Denpasar Masa Bakti 2026–2031 di Pura Agung Lokanatha, Lumintang, bukan sekadar seremoni pengukuhan kepengurusan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi penegasan bahwa perempuan Bali tetap menjadi denyut yang menjaga harmoni keluarga, adat, dan budaya di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Suasana sakral terasa begitu kental ketika para prajuru PAKIS MDA Kota Denpasar dan PAKIS MDA Kecamatan se-Kota Denpasar mengikuti prosesi pamikukuh. Di hadapan para tokoh adat, pemimpin daerah, dan undangan yang hadir, mereka menerima amanah untuk melanjutkan pengabdian menjaga warisan budaya Bali, sekaligus memperkuat eksistensi perempuan dalam kehidupan desa adat.
Kehadiran Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, memberikan makna tersendiri. Sebagai Pembina PAKIS MDA Kota Denpasar, ia menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penjaga rumah tangga, tetapi juga penjaga peradaban yang menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.
“Perempuan memiliki posisi yang sangat strategis. Dari keluarga lahir karakter, dari ibu lahir generasi, dan dari perempuan adat tumbuh kekuatan untuk menjaga warisan budaya Bali agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujar Ny. Sagung Antari Jaya Negara.
Menurutnya, keberadaan PAKIS harus menjadi ruang yang mampu menyatukan semangat ngayah, mempererat persaudaraan antarkrama istri, sekaligus melahirkan berbagai gerakan nyata yang mendukung pembangunan Kota Denpasar. Sinergi antara organisasi perempuan adat, desa adat, dan pemerintah diyakini menjadi fondasi kuat dalam menjawab berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.
Mulai dari pelestarian adat dan budaya, penguatan ketahanan keluarga, penanganan persoalan sampah, hingga pencegahan stunting, seluruhnya membutuhkan keterlibatan perempuan yang selama ini menjadi ujung tombak dalam kehidupan keluarga maupun komunitas adat.
“Sinergi antara organisasi perempuan adat, desa adat, dan pemerintah harus terus diperkuat. Dengan kebersamaan, kita tidak hanya menjaga warisan budaya Bali, tetapi juga membangun masyarakat yang harmonis, berbudaya, dan semakin sejahtera,” tegas Ny. Sagung Antari Jaya Negara.
Sementara itu, Bendesa Madya MDA Kota Denpasar, I Ketut Wisna, mengingatkan bahwa PAKIS merupakan badan otonom Majelis Desa Adat yang memikul tanggung jawab besar dalam menjaga adat, agama, seni, dan budaya Bali, baik secara sekala maupun niskala. Amanah itu kini berada di pundak kepengurusan baru yang dipimpin Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati bersama seluruh jajaran prajuru.
Prosesi Majaya-Jaya kemudian ditutup dengan doa bersama. Asap dupa perlahan membumbung ke langit, seolah menjadi simbol harapan agar setiap langkah pengurus baru senantiasa mendapat tuntunan. Dari Pura Agung Lokanatha, semangat pengabdian itu kembali diteguhkan—bahwa ketika perempuan adat berdiri kokoh menjaga akar budaya, maka jati diri Bali akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.(JpBali).



