
DENPASAR-jarrakposbali.com | Salah satu konsep dari filosofi Bali yang menarik dan penuh misteri adalah Rwa Bhineda. Konsep ini boleh diterjemahankan sebagai dualisme, Rwa Bhineda bermakna bahwa kehidupan tergantung pada keseimbangan antara dua unsur yang berlawanan. Unsur-unsur ini tidak perlu dinilai baik atau jelek, dan tidak ada maksud bahwa satu akan mengalahkan yang lain. Konsep Rwa Bhineda tidak mengharapkan bahwa kita akan mencapai kesempurnaan. Tujuan konsep ini adalah keseimbangan di antara semua aspek dalam seorang, sampai seluas alam semesta. Rwa Bhineda mengambarkan hidup yang seadanya, tidak yang seharusnya.

Pinisepuh Rwa Bhineda, Soelung lodhaya, menjelaskan bahwa, Kegelapan atau kebingungan itu ada dua macam yaitu gelap pikiran berarti berpikiran tak tenang dan gelap hati berarti berperasaan gelisah.
“Orang yang kegelapan disebut orang yang dalam keadaan duka. Lawan dari kegelapan itu adalah terang yaitu terang pikiran yang berarti berpikiran tenang dan terang hati berarti berperasaan senang (suka). Biasanya yang disebut rwa bhineda dalam agama Hindu adalah suka duka,” ujar Pinisepuh Rwa Bhineda.

Adanya Rwa Bhineda menimbulkan dua sifat yang berbeda, namun perbedaan inilah yang membuatnya menjadi satu. Konsep Rwa Bhineda dalam kehidupan masyarakat Bali tidak terlepas dari dua unsur besar alam semesta dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali.
“Dua unsur besar ini yakni Bhuana Agung dan Bhuana Alit saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Bhuana Agung melambangkan kehidupan alam Semesta yang begitu luas, keberadaan alam semesta ini menunjukkan kekuasaan adanya Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Pinisepuh Rwa Bhineda.

Sedangkan, Bhuana Alit melambangkan unsur-unsur yang ada pada diri manusia, jika kedua unsur besar ini terpisah maka kehidupan alam semesta tidak akan seimbang dan selaras.
Hal ini lah yang menunjukkan bahwa di bumi pasti selalu terdapat hitam putih kehidupan yang menjadikan warna kehidupan.
“Dewasa ini makna Rwa Bhinneda semakin samar. Setiap perbedaan yang ada dimuka bumi ini sering dihubung-hubungkan dengan Rwa Bhinneda sehingga suatu kejadian sering di-excuse karena konsep Rwa Bhinneda tersebut,” jelas Pinisepuh Rwa Bhineda.

Lebih lanjut,” Rwa Bhinneda dalam pemahaman masyarakat, sering diartikan suatu sistem yang memutar kehidupan krama (bermasyarakat). Dengan kata Rwa Bhinneda ini, suatu perbuatan atau keadaan, maupun waktu yang senantiasa bertentangan. Dengan pertentangan inilah, hidup ini berputar,”tutup Pinisepuh Rwa Bhineda.(td/JP).



