Berita

Megawati Hadiri Palebon Ibunda Wali Kota Denpasar

Kehadiran Presiden ke-5 RI di Tengah Suasana Duka, Mengiringi Perjalanan Terakhir Sosok Ibu yang Melahirkan Dua Tokoh Penting Bali

jarrakposbali.com, DENPASAR – Langit Denpasar tampak teduh, seolah ikut merunduk bersama suasana duka yang menyelimuti Jero Saba Penatih, Senin pagi (4/8/2025).

Aroma dupa menyusup lembut di antara deretan bunga dan pelinggih, mengiringi prosesi pelebon Ni Jero Samiarsa sosok ibu yang telah melahirkan dan membesarkan dua tokoh penting di Bali: Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, dan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga.

Di tengah suasana yang sarat haru, sosok yang tak asing bagi masyarakat Indonesia hadir perlahan: Megawati Soekarnoputri. Mengenakan kebaya putih berselendang hitam dan kain endek gelap, Presiden ke-5 Republik Indonesia itu berjalan pelan memasuki halaman rumah duka, didampingi sang putra, Prananda Prabowo, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.

Kehadiran Megawati bukan semata seremoni. Ia datang sebagai seorang ibu, seorang sahabat, dan seorang pemimpin yang mengenal betul nilai keluarga dan perjuangan. Di tengah iringan gamelan dan kidung duka, Megawati menyapa keluarga besar almarhumah dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

“Ibu Ni Jero adalah sosok luar biasa yang mampu menanamkan nilai-nilai kesabaran, tanggung jawab, dan pengabdian kepada anak-anaknya,” ujar Megawati dalam sapaan singkat di hadapan keluarga.

“Dari beliau, lahir anak-anak yang mengabdi bagi rakyat. Itu adalah pencapaian besar seorang ibu,” lanjutnya.

Sementara itu, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, dengan suara bergetar mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran Megawati.

“Kami sekeluarga merasa sangat terhormat. Kehadiran Ibu Megawati memberi kekuatan di tengah kehilangan ini,” ucapnya.

Tak jauh dari situ, I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga menunduk, menahan haru. Bagi perempuan yang pernah menjabat menteri, almarhumah ibundanya adalah inspirasi hidup.

“Beliau mendidik kami dengan ketegasan penuh cinta. Ia tak hanya menjadi ibu, tapi juga guru kehidupan,” ungkapnya.

Upacara palebon berlangsung khidmat, menyatu dalam irama adat Bali yang sakral. Ogoh-ogoh Cupak dan lembu hitam besar tampak menjadi simbol perjalanan spiritual almarhumah menuju alam sunya.

Ratusan pelayat dari berbagai kalangan turut mengantar, memberi doa terakhir.Bagi Megawati, kehadirannya hari itu bukan hanya agenda politik atau kedatangan sebagai tokoh bangsa.

Di Jero Saba Penatih, ia berdiri sebagai seorang sosok yang datang memberikan penghormatan kepada seorang ibu sosok paling mulia dalam hidup siapa pun. Dalam keheningan itu, barangkali doa terbaik adalah keikhlasan dan penghargaan atas cinta yang ditinggalkan seorang ibu bagi anak-anaknya, dan bagi Bali.(jpbali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button