
DENPASAR, jarrakposbali.com – Di tengah semangat Bulan Bung Karno 2026, Bali tidak hanya merayakan sosok proklamator lewat seremoni dan lomba budaya. Ada ruang lain yang mulai mendapat perhatian serius, yakni pelindungan karya intelektual masyarakat Bali agar memiliki nilai hukum sekaligus nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, Kementerian Hukum dan HAM, serta perguruan tinggi, sosialisasi dan penyerahan Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan tahun ini. Kegiatan tersebut berlangsung di berbagai daerah di Bali, dengan penyerahan sertifikat KI secara massal dipusatkan di Kabupaten Badung.
Yang menarik, suasana kegiatan terasa dekat dengan denyut kreativitas masyarakat Bali sehari hari. Mulai dari karya cipta, merek usaha lokal, hingga warisan budaya daerah mendapat ruang untuk diakui dan dilindungi secara resmi. Banyak pelaku UMKM, akademisi, seniman, dan generasi muda hadir membawa harapan agar karya mereka tidak sekadar dikenal, tetapi juga memiliki kepastian hukum.
Sering kali karya lokal tumbuh dari tradisi panjang dan proses kreatif yang sederhana. Namun pada akhirnya, pelindungan hukum menjadi langkah penting agar karya tersebut tetap memiliki identitas dan tidak mudah diklaim pihak lain. Di banyak kasus, sertifikat KI juga membuka peluang ekonomi baru, terutama di sektor pariwisata dan industri kreatif Bali.
Semangat itulah yang terasa dalam program KI Pariwisata yang mulai diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat. Program ini sejalan dengan ajaran Trisakti Bung Karno tentang pentingnya berkepribadian dalam kebudayaan. Bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kemampuan menjaga jati diri bangsa.
Dalam rangkaian yang sama, LLDIKTI Wilayah VIII turut menggelar Sosialisasi Lomba Karya Tulis Ilmiah Bulan Bung Karno 2026. Kompetisi ini membuka ruang bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk menuangkan gagasan tentang kebudayaan, inovasi, dan masa depan Indonesia. Pendaftaran berlangsung sejak 1 April hingga 23 Mei 2026, sementara proses penilaian dijadwalkan pada 25 Mei sampai 6 Juni 2026.
Kadang sebuah karya lahir dari ruang kecil, dari kegelisahan sederhana, atau dari tradisi yang diwariskan turun temurun. Namun ketika karya itu dihargai dan dilindungi, ada rasa percaya diri baru yang tumbuh di tengah masyarakat. Bulan Bung Karno tahun ini pun terasa bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan juga pengingat bahwa ide, budaya, dan kreativitas adalah bagian penting dari masa depan Bali dan Indonesia.(JpBali).



