
DENPASAR, jarrakposbali.com – Di Bali, bulan Juni sering kali terasa berbeda. Bali tidak hanya memperingati sosok Soekarno sebagai proklamator, tetapi juga menghadirkan kembali gagasan yang pernah ia titipkan untuk masa depan bangsa. Tentang politik yang berdaulat, ekonomi yang berdikari, dan kebudayaan yang tetap memiliki jati diri.
Nilai itu dikenal sebagai Trisakti. Sebuah gagasan yang lahir puluhan tahun lalu, namun di banyak situasi masih terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Ketika dunia bergerak semakin cepat, identitas sering kali menjadi hal pertama yang memudar. Di titik itu, Bali memilih merawat ingatan kolektifnya sendiri.
Melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 19 Tahun 2019, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan Juni sebagai Bulan Bung Karno. Selama satu bulan penuh, ruang publik diisi dengan kegiatan yang menghubungkan sejarah, budaya, pendidikan, ekonomi kerakyatan, hingga partisipasi masyarakat. Yang menarik, kebijakan ini menjadi satu-satunya agenda Bulan Bung Karno resmi tingkat provinsi di Indonesia.
Di banyak sekolah dan kampus, diskusi tentang Pancasila kembali hidup. Di desa-desa adat, nilai gotong royong dan tata kehidupan berbasis kearifan lokal kembali dibicarakan. Sementara pelaku UMKM dan IKM diberi ruang untuk menunjukkan bahwa ekonomi rakyat tetap menjadi fondasi penting pembangunan Bali.
Bulan Bung Karno pada akhirnya bukan sekadar agenda seremonial. Ada upaya untuk menghidupkan kembali cara berpikir yang menempatkan rakyat sebagai pusat pembangunan. Semangat itu kemudian dihubungkan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam Bali Era Baru, sebuah pendekatan pembangunan yang berupaya menjaga keseimbangan alam, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.
Pesertanya pun datang dari banyak lapisan. Mulai dari siswa SMA dan SMK, mahasiswa, akademisi, guru, ASN, desa adat, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat umum. Situasi ini sering kali menghadirkan suasana yang menarik. Ada ruang pertemuan antara generasi muda dengan gagasan lama yang ternyata masih relevan dibicarakan hari ini.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar sering kali tidak hanya diukur dari kemajuan teknologinya. Ada hal lain yang diam-diam menentukan arah perjalanan sebuah bangsa, yaitu kemampuan menjaga jati diri sambil tetap bergerak mengikuti zaman.(JpBali).



