Bangsa Kehilangan Putra Terbaik, IGK Manila Tutup Usia
Mayor Jenderal TNI (Purn) I Gusti Kompyang Manila wafat di usia 83 tahun. Jejak pengabdiannya terbentang dari dunia militer, olahraga hingga pendidikan politik.

jarrakposbali.com, JAKARTA – Lahir di Singaraja, Bali, pada 8 Juli 1942, IGK Manila meniti jalan panjang penuh disiplin dan pengabdian.
Ia menempuh pendidikan militer hingga meraih pangkat Mayor Jenderal TNI AD, sebelum kemudian dikenal luas sebagai tokoh olahraga dan pendidik bangsa.
Jejaknya begitu dalam di olahraga nasional. IGK Manila adalah sosok di balik lahirnya Wushu Indonesia, sekaligus penggerak pembinaan sepak bola.
Puncak prestasinya tercatat pada SEA Games 1991 di Manila, saat ia menjabat sebagai manajer Timnas Indonesia yang sukses mempersembahkan medali emas prestasi bersejarah yang hingga kini masih dikenang.
Di luar lapangan, IGK Manila dikenal tegas sekaligus penuh perhatian. Ia kerap membangunkan pemain sejak subuh untuk memastikan latihan berjalan tepat waktu. Bagi banyak orang, disiplin adalah nafas hidupnya.
Setelah purna tugas di militer, IGK Manila melanjutkan pengabdiannya di Akademi Bela Negara Partai NasDem.
Di sana ia menjadi guru bangsa, menanamkan nilai kebangsaan dan disiplin pada generasi muda.
Senin, 18 Agustus 2025, IGK Manila berpulang di usia 83 tahun di RS Bunda Menteng, Jakarta, pukul 08.59 WIB.
Jenazah kemudian disemayamkan di Aula Akademi Bela Negara Partai NasDem sebelum upacara penghormatan terakhir dan kremasi yang dijadwalkan pada Rabu, 20 Agustus 2025.
Sekretaris Jenderal Partai NasDem Hermawi Taslim menyampaikan:
โInnalillahi wa innailaihi rajiun. Telah berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Mayor Jenderal (Purn) I Gusti Kompyang (IGK) Manila, pada hari ini, Senin, 18 Agustus 2025,โ ujar Hermawi Taslim kepada wartawan, dikutip dari Liputan6.com.
Kepergian Mayor Jenderal TNI (Purn) I Gusti Kompyang Manila menorehkan duka mendalam, namun juga menghadirkan warisan keteladanan.
Dari medan tempur, arena olahraga, hingga ruang pendidikan politik, sosoknya selalu mengajarkan arti disiplin, dedikasi, dan cinta pada bangsa.
Warisan itu kini hidup dalam ingatan mereka yang pernah mengenalnya dan dalam sejarah Indonesia.(jpbali).



