BeritaDenpasar

Jaya Negara Ngayah di Metatah Massal Kesiman

DENPASAR, jarrakposbali.com – Pantai Padang Galak pada Senin (28/9) menjadi ruang kebersamaan bagi krama Desa Adat Kesiman. Sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat mengikuti Upacara Metatah atau Mepandes Massal yang digelar sebagai bagian dari rangkaian karya adat dan keagamaan Desa Adat Kesiman.

Di tengah khidmatnya prosesi, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir dan ikut ngayah nyangging kepada sejumlah peserta. Kehadiran tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap pelaksanaan tradisi adat yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.

Bagi Jaya Negara, karya adat secara massal memiliki makna sosial yang kuat. Masyarakat dapat menjalankan kewajiban adat dan keagamaan secara bersama, sekaligus memperoleh kemudahan dalam pengaturan waktu dan pembiayaan.

“Pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.”

Upacara Metatah massal juga menjadi gambaran bagaimana semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat perkotaan. Para orang tua yang memiliki anak mengikuti prosesi potong gigi dapat menjalankan rangkaian upacara secara bersama dengan dukungan krama, panitia, dan Desa Adat.

Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman bersama seluruh panitia yang telah menyiapkan rangkaian karya secara terstruktur. Prosesi tersebut mencakup Ngaben, Mepetik, Ngangkit ke Pasih hingga Metatah Massal.

“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”

Di Kesiman, tradisi kemudian menemukan bentuknya melalui kerja bersama. Ratusan peserta, keluarga, krama banjar, prajuru adat dan panitia bergerak dalam satu rangkaian kegiatan. Nilai yang terasa bukan hanya pada ritualnya, tetapi juga pada kebersamaan yang tumbuh selama proses persiapan hingga pelaksanaan.

Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, karya massal tersebut terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian telah dimulai sejak Negteg Beras pada 9 September, Ngingsah pada 16 September, Melaspas Peyadnyan pada 18 September, hingga Mesasap Segara yang diikuti 526 peserta.

“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya.”

Rangkaian karya Desa Adat Kesiman masih berlanjut. Puncak acara dijadwalkan pada 1 Oktober melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang akan dipuput lima sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya ditutup dengan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.

Karya adat ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar rangkaian ritual. Ada nilai kebersamaan yang dirawat, ada beban masyarakat yang diringankan, dan ada tradisi yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman.”

Pada akhirnya, Metatah Massal Kesiman memperlihatkan bahwa ketika masyarakat bergerak bersama, sebuah karya adat dapat menjadi ruang untuk menjaga tradisi sekaligus menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh krama.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button