BeritaDenpasar

Jaya Negara Serahkan Piala Rare Angon Festival, Budaya Bali Makin Mendunia

DENPASAR, jarrakposbali.com – Langit Bali memang telah kembali tenang setelah ribuan layang layang selesai menari di udara. Namun semangat Rare Angon Festival belum benar benar berakhir. Suasana hangat justru terasa pada Gala Dinner penutupan festival ketika Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyerahkan Piala Bergilir Rare Angon Festival sebagai simbol persahabatan, sportivitas, dan kecintaan terhadap budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Di balik seremoni tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana tradisi sederhana yang lahir dari permainan rakyat kini menjelma menjadi panggung budaya yang mempertemukan masyarakat Bali dengan peserta dari berbagai penjuru dunia.

Rare Angon Festival kembali menunjukkan bahwa layang layang bukan sekadar permainan yang menghiasi langit. Festival ini telah berkembang menjadi ruang bertemunya budaya, kreativitas, dan persaudaraan lintas negara. Gala Dinner yang digelar sebagai penutup rangkaian kegiatan menjadi momentum apresiasi bagi komunitas layang layang, panitia, relawan, serta seluruh peserta yang telah menghidupkan festival selama beberapa hari terakhir.

Acara berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Tawa, perbincangan hangat, dan pertukaran pengalaman antar peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara menciptakan suasana yang menggambarkan kuatnya bahasa universal sebuah budaya.

“Rare Angon Festival merupakan warisan budaya yang harus terus kita jaga bersama. Kehadiran peserta dari berbagai negara menunjukkan bahwa budaya Bali memiliki daya tarik yang kuat di mata dunia. Semoga festival ini terus berkembang menjadi agenda internasional yang memberikan manfaat bagi masyarakat, budaya, dan pariwisata Kota Denpasar,” ujar Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara.

Bagi Pemerintah Kota Denpasar, Rare Angon Festival memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sebuah perlombaan layang layang. Festival ini menjadi media diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas Bali kepada dunia, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Setiap peserta yang hadir membawa cerita dari negaranya masing masing. Pada akhirnya mereka pulang dengan pengalaman baru tentang Bali, tentang masyarakatnya, dan tentang sebuah tradisi yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.

“Wonderful festival. Terima kasih atas sambutannya. Saya sangat bahagia melihat begitu banyak layang layang menghiasi langit Bali. Ini adalah budaya dan pengalaman yang sangat luar biasa. Terima kasih juga kepada Pemerintah Kota Denpasar atas dukungannya terhadap penyelenggaraan festival ini,” ungkap peserta asal Amerika Serikat, Ron Spaulding.

Kehadiran peserta internasional memberikan warna tersendiri bagi penyelenggaraan Rare Angon Festival tahun ini. Interaksi yang terjalin selama festival menghadirkan pertukaran budaya yang berlangsung secara alami. Bahasa boleh berbeda, namun antusiasme terhadap seni layang layang mampu menyatukan semua peserta dalam semangat yang sama.

Pengalaman tersebut sekaligus memperkuat posisi Denpasar sebagai kota budaya yang terbuka terhadap kolaborasi internasional tanpa meninggalkan akar tradisinya.

“Kehadiran peserta internasional menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan Rare Angon Festival. Festival ini bukan hanya kompetisi, tetapi ruang bertemunya berbagai budaya melalui tradisi layang layang Bali yang terus berkembang,” kata Panitia Rare Angon Festival, Kadek Armika.

Penyerahan Piala Bergilir Rare Angon Festival menjadi penutup yang sarat makna. Piala itu bukan hanya penghargaan bagi para pemenang, melainkan lambang perjalanan sebuah tradisi yang terus tumbuh bersama zaman. Dari langit Denpasar, ribuan layang layang telah membawa pesan tentang persahabatan, sportivitas, dan kebanggaan terhadap budaya Bali.

Dengan semangat Vasudhaiva Kutumbakam, Rare Angon Festival terus menegaskan dirinya sebagai panggung budaya yang menghubungkan masyarakat lokal dengan dunia. Setiap helai benang yang mengangkat layang layang ke angkasa seolah mengikat harapan agar warisan budaya Bali tetap terbang tinggi, dikenal lebih luas, dan terus menginspirasi generasi yang akan datang.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button