
BADUNG, jarrakposbali.com – Denpasar dan Badung selama ini tumbuh sebagai wajah modern Bali. Pariwisata bergerak cepat, pembangunan terus berjalan, dan dunia datang silih berganti menikmati pulau ini. Namun di tengah perubahan itu, ada kegelisahan yang mulai sering dibicarakan pelan-pelan di ruang keluarga Bali. Nama Nyoman dan Ketut mulai jarang terdengar.
Di hadapan ribuan pasemetonan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan (PGSDT), Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan pesan yang terasa sederhana, namun menyentuh arah masa depan Bali. Ia mengajak masyarakat Bali kembali membangun keluarga dengan empat anak sebagai bagian dari menjaga keberlangsungan budaya, adat, dan identitas krama Bali.
โJika jumlah kita semakin sedikit, bagaimana caranya kita mampu mempertahankan dan melestarikan budaya Bali. Untuk itu, saya ajak setiap rumah tangga kembali memilih untuk memiliki 4 anak,โ tegas Koster saat menghadiri Dharma Santi dan HUT ke-57 Para Gotra Sentana Dalem Tarukan di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Minggu (24/5).
Bagi masyarakat Bali, urutan nama anak bukan sekadar panggilan keluarga. Di sana ada jejak tradisi, struktur sosial, sekaligus warisan budaya yang diwariskan turun-temurun. Ketika keluarga rata-rata hanya memiliki dua anak, maka generasi Nyoman dan Ketut perlahan mulai menghilang dari kehidupan sehari-hari.
Koster melihat persoalan ini bukan sekadar soal angka kependudukan. Yang sedang dipertaruhkan adalah keberlanjutan budaya Bali itu sendiri. Menurutnya, Bali hanya memiliki luas kecil dibanding Indonesia, sementara tekanan perubahan sosial dan arus pendatang terus meningkat dari tahun ke tahun.
โKarena masa depan orang Bali tidak bisa dititipkan kepada orang lain dan hanya bisa dijaga oleh krama Bali itu sendiri,โ ujar Koster di hadapan pasemetonan PGSDT.
Pada kesempatan itu, Koster juga menyinggung langkah Pemerintah Provinsi Bali yang mulai menggerakkan program satu keluarga satu sarjana melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Bali. Program ini diharapkan mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia Bali di tengah perkembangan zaman yang semakin kompetitif.
Suasana perayaan HUT ke-57 PGSDT sendiri berlangsung hangat dan penuh nuansa persaudaraan. Ribuan anggota paiketan hadir mengenakan busana adat Bali, berkumpul dalam semangat mulat sarira, saling asah, asih, dan asuh yang selama ini menjadi fondasi kuat kehidupan sosial masyarakat Bali.
Ketua Umum PGSDT Pusat, I Wayan Jarta menyampaikan bahwa organisasi Para Gotra Sentana Dalem Tarukan kini telah memiliki ribuan anggota dan Balapraja di seluruh Bali. Momentum HUT ke-57 ini dijadikan ruang evaluasi sekaligus penguatan semangat gotong royong untuk menjaga kehidupan masyarakat Bali yang harmonis dan berlandaskan Tri Hita Karana.
โPasemetonan sangat penting karena itu merupakan wujud bakti kita terhadap leluhur, namun jangan sampai menimbulkan fanatisme atau mengkotak-kotakkan diri,โ kata Koster mengingatkan.
Yang menarik, pidato itu terasa lebih dari sekadar sambutan seremonial. Ada pesan tentang kecemasan sebuah generasi yang ingin memastikan Bali tetap hidup dengan akar budayanya sendiri. Di tengah modernitas, pariwisata, dan perubahan pola hidup masyarakat, Bali sedang berbicara tentang cara menjaga dirinya tetap utuh.
Dan mungkin, di masa depan, suara orang tua memanggil โNyomanโ atau โKetutโ di halaman rumah akan kembali terdengar lebih sering di Bali.
Saat nama Nyoman dan Ketut mulai jarang terdengar, Bali sedang berbicara tentang masa depan budayanya sendiri. Gubernur Koster mengajak keluarga Bali kembali memiliki 4 anak demi menjaga keberlanjutan adat, tradisi, dan identitas krama Bali. Momentum HUT ke-57 PGSDT menjadi pengingat bahwa menjaga Bali tidak cukup hanya lewat pembangunan, tetapi juga lewat keluarga dan generasi penerus.(JpBali).



