BeritaKeagamaanKlungkung

Tirta Yatra Kelima Paiketan Sangku Desa Bakas, Ruang Belajar dan Refleksi

SEMARAPURA,jarrakposbali.com – Pagi di Bedugul, Kamis 22 Januari 2026, terasa berjalan lebih pelan. Kabut tipis dan udara sejuk menyelimuti Pura Bang Teratai ketika Paiketan Sangku Desa Bakas berkumpul untuk melaksanakan Tirta Yatra ke lima. Di ruang sakral yang tenang, langkah langkah spiritual dijalani dengan penuh kesadaran, menghadirkan suasana hening yang memberi ruang bagi perenungan batin.

Kegiatan Tirta Yatra ini dipimpin dan dikoordinir oleh Ketua Paiketan, Jro Mangku Swagina. Bagi para sangku dan pemangku, perjalanan suci semacam ini sering kali menjadi jeda yang bermakna dari rutinitas pelayanan umat. Di banyak kasus, momen seperti ini dimanfaatkan untuk menata ulang batin sekaligus memperdalam pemahaman tentang laku kepemangkuan.

“Pada pelaksanaan kali ini, perjalanan suci tidak hanya dimaknai sebagai persembahyangan bersama, tetapi juga sebagai penguatan tanggung jawab pemangku di tengah dinamika desa adat yang terus bergerak,” ujar Jro Mangku Swagina.

Di tengah rangkaian Tirta Yatra, perhatian peserta tertuju pada satu momen sederhana namun sarat makna. Bendesa Adat Bakas yang turut mendampingi kegiatan ini membagikan buku panduan kepemangkuan kepada seluruh peserta. Pembagian dilakukan tanpa seremoni khusus, namun terasa relevan dengan semangat pembelajaran yang menyertai perjalanan spiritual tersebut.

“Buku ini diharapkan menjadi pegangan praktis bagi para pemangku, sekaligus pengingat nilai tattwa, susila, dan upacara dalam menjalankan swadharma masing masing,” ungkap Jro Mangku Swagina.

Bendesa Adat Bakas, Cokorda Oka Adnyana, memandang Tirta Yatra sebagai ruang belajar bersama. Selain mengenal dan mengunjungi pura pura di Bali, para pemangku mendapatkan kesempatan untuk menambah wawasan dan refleksi sebagai pemucuk di parahyangan masing masing. Yang menarik, kegiatan ini juga dilihat sebagai upaya menjaga kesinambungan tradisi melalui pemahaman yang lebih terarah.

“Kami menyambut baik Tirta Yatra ini karena banyak hal penting yang bisa didapatkan oleh para pemangku, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga dalam penguatan peran dan etika kepemangkuan,” jelas Bendesa Adat Bakas.

Dalam suasana kebersamaan tersebut, para peserta menerima pesan reflektif yang mengajak untuk melihat kehidupan secara lebih jernih. Pesan ini mengingatkan bahwa tubuh dan jasmani bisa mengalami sakit, sehingga pikiran perlu dijaga agar tetap sehat. Kehidupan dipahami sebagai sesuatu yang tidak pasti, sementara kematian adalah kepastian yang akan datang pada waktunya.

“Saat kematian tiba, harta, tahta, dan kemewahan tidak lagi kita miliki. Yang tersisa hanyalah kebajikan dan amal perbuatan,” tutur Cokorda Oka Adnyana.

Pada akhirnya, Tirta Yatra ke lima Paiketan Sangku Desa Bakas menjadi lebih dari sekadar perjalanan suci. Kegiatan ini tumbuh sebagai proses belajar kolektif untuk merawat nilai nilai adat dan keagamaan agar tetap hidup dan relevan. Di tengah ketenangan Pura Bang Teratai, peran pemangku diteguhkan sebagai penjaga harmoni desa adat, dengan harapan keseimbangan lahir dan batin senantiasa terjaga dalam kehidupan bersama.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button