Berita

Putri Suastini Koster: Dari Panggung Seni ke Panggung Pengabdian

Perjalanan Ni Putu Putri Suastini Koster menapaki jejak seni, merawat budaya Bali, dan mengabdikan diri di panggung sosial demi kesejahteraan masyarakat.

jarrakposbali.com, DENPASAR – Senja merayap pelan di Denpasar, namun di dalam sebuah aula sederhana, suasana terasa hangat dan penuh semangat. Sorotan lampu panggung memantulkan kilau kebaya hijau keemasan yang dikenakan Ni Putu Putri Suastini Koster.

Jemari halusnya menggenggam lembaran puisi, sementara matanya menyapu penonton.

“Seni itu bukan sekadar hiburan, tapi nafas kehidupan,” ujarnya pelan, namun tegas.

Tepuk tangan bergemuruh, bukan hanya karena kata-kata indah yang baru saja terucap, tetapi karena hadirin tahu, ucapan itu lahir dari perjalanan panjang seorang seniman sejati.

Lahir dan besar di Padangsambian, Denpasar, Putri Suastini mengenal panggung sejak masa remaja. Masa SMP menjadi titik awal keberaniannya tampil di Teater Kukuruyuk.

“Saya dulu anak pemalu,” kenangnya sambil tersenyum kecil. “Tapi begitu berdiri di panggung, dengan lampu panas dan penonton yang menatap, saya merasa ini rumah saya.”

Bakatnya tak berhenti di teater. Ia menekuni tari tradisional, pembacaan puisi, hingga musik. Bersama Trio Srikandi, ia menghidupkan lagu-lagu adat seperti Galungan Kuningan, mengajak generasi muda merayakan tradisi lewat nada.

“Budaya itu tidak boleh hanya disimpan, ia harus dihidupkan,” tegasnya, sorot matanya berbinar.

Perannya semakin meluas ketika ia menjadi istri Gubernur Bali. Status itu tidak membuatnya meninggalkan panggung, justru membuka panggung baru,panggung sosial.

Sebagai Ketua Dekranasda Bali, ia turun langsung ke desa-desa, duduk lesehan bersama para perajin, mendengar keluh kesah mereka. Dari pertemuan itulah lahir Pasar Gotong Royong Krama Bali yang memotong rantai distribusi, membantu petani menjual panen langsung ke konsumen.

Ia juga menggerakkan HATINYA PKK untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga melalui pemanfaatan pekarangan sebagai kebun sayur dan tanaman obat. Di forum-forum perempuan, seperti Sakapuan Talks, ia menanamkan pesan kuat:

“Perempuan Bali harus punya ketulusan dan cinta diri. Dua hal ini membuat kita kuat di rumah, di masyarakat, bahkan di dunia kerja.”

Ketika ditanya dari mana ia mendapatkan energi untuk menjalankan semua peran itu, ia tersenyum hangat.

“Saya menari, saya berteater, saya bicara dengan orang. Semua itu memberi saya semangat. Hidup itu seperti panggung kita harus memainkan peran dengan sepenuh hati.”

Dan di situlah rahasia Putri Suastini Koster, ia tak pernah benar-benar meninggalkan panggung. Entah itu panggung seni, panggung sosial, atau panggung kehidupan,ia selalu tampil dengan hati penuh cinta.(jpbali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button