Bencana AlamDaerah

Tak Disebut Biang Kerok Terjadinya Banjir Bandang, Pengawen Buat Unggahan di Medsos

Bupati Tamba Ancam Cabuk Hak Pengelolaan Hutan

JEMBRANA, jarrakposbali.com ! Ditengah sejumlah warga Jembrana yang terdampak langsung banjir bandang masih dirundung duka akibat rumah dan semua isinya rata dengan tanah, muncul unggahan nyeleneh di media sosial facebook.

Sebuah unggahan video merupakan bentuk klarifikasi diunggah di akun facebook (fb) Komang Seni, terkait kondisi hutan di wilayah Jembrana mendapat tanggapan beragam oleh netizen. Kebanyakan netizen mengecam unggahan tersebut.

Dalam video tersebut memperlihatkan kondisi di dalam hutan yang ada di wilayah Jembrana pasca banjir bandang, Minggu 16 Oktober 2022 lalu (namun belum diketahui titik lokasi dalam video tersebut).

Perekam hanya memperlihatkan kondisi hutan dari dalam sungai yang di kanan kirinya terlihat pepohonan yang masih lebat. Sementara di alur sungai masih terlihat batang-batang kayu berserakan yang dibawa banjir.

Pihak perekam juga menyebutkan dalam rekaman video tersebut “Beginilah kondisi hutan semeton, banjir bandang dan tidak ada pengawen (perambah hutan) agar tidak menyalahkan pengawen, kasihan pengawen”

Kalimat inilah yang memantik kemarahan para warga net, meskipun tidak sampai viral, video yang diunggah pada hari Rabu, 19 Oktober 2022 tersebut banyak mendapat kecaman dari warga net.

Ada warga net yang berkomentar, jelas-jelas pengawen (perambah hutan) salah dan melanggar hukum kok dibela. Ada pula yang berkomentar di sungai jelas tidak ada pengawen dan banyak lagi kecaman yang disampaikan warga net dalam unggahan tersebut.

Banyak pihak menduga, pembuat video tersebut sengaja mengungah di media sosial untuk klarifikasi karena banyak pihak menuding banjir bandang yang terjadi di Jembrana beberapa waktu lalu biang keroknya adalah perambahan hutan.

Perekam/pengunggah diduga salah satu perambah hutan yang tidak mau disalahkan atas musibah banjir bandang tersebut, makanya video dengan kalimat agar tidak menyalahkan pengawen diunggah ke medsos.

Sebelumnya terkait dengan maraknya perambahan hutan, Bupati Jembrana I Nengah Tamba sempat menyampaikan kekesalannya di hadapan sejumlah korban banjir bandang di posko pengungsian Lingkungan Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring, mendoyo kemarin.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Tamba mengatakan, faktor utama banjir bandang memang karena alam, namun faktor lainnya juga karena adanya masyarakat merambat hutan.

Terbukti dari material banjir yang terbawa banyak kayu yang hanyut sudah membuktikan adanya penebangan pohon untuk alih fungsi hutan.

“Saya sudah peringatkan ketua kelompok tani hutan, nanti akan saya kumpulkan masyarakat yang memanfaatkan hutan. Apabila masih terjadi banjir saya akan cabut hak untuk pengelolaan hutan,” tegas Tamba.

Untuk itu pihaknya akan berkoordinasi dengan Gubernur karena ijin hak pengelolaan hutan dikeluarkan oleh pemerintah provinsi. Langkah ini akan dilakukan jika musibah banjir masih terjadi lagi.(ded)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button