BeritaDaerahSeni Budaya

Tak Ingin Lupakan Sejarah, Griya dan Puri Sejebag Klungkung Rembug Informal

SEMARAPURA, jarrakposbali.com | Dalam menjalankan roda organisasi dari Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara, khususnya cabang klungkung, disebutkan dalam Program Kerja Manggala Darma Prawerthi Sabha periode 2020-2025, khususnya dalam bidang Hubungan Masyarkat disebutkan untuk membangun komunikasi dengan Tokoh Puri, Tokoh Masyarkat dan pemerintahan.

Khusus untuk membangun komunikasi dengan Para tetokoh Puri, Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara cabang Klungkung dalam hal ini telah memulai komunikasi secara intensive guna mempererat hubungan dan komunikasi antara Griya dan Puri seluruh Kabupaten Klungkung, Hubungan komunikasi ini telah terjalin terbukti Dharmopadesa Klungkung telah melaksankan pertemuan secara Informal berupa rembug paiketan Griya dan Puri yang bertempat di Puri Saraswati klungkung, Minggu (02/10/2021).

 

Hadir dalam Rembug Informal tersebut sebanyak 33 para Tokoh Panglingsir Griya, beberapa tokoh Puri, dan juga turut hadir dalam rembug Informal dari unsur tokoh Pemerhati dan Akademis sejarah seperti, Prof.Dr.A.A.Bagus Wirawan,SU (Guru Besar Ilmu Sejarah Univ.Udayana), hadir juga Drs,Ida Bagus Putra,SU (Dosen sejarah Univ.Udayana), dan Prof.dr.Tjkorda Raka Putra permahati sejarah dan juga sebagai seorang Dokter spesialis Bedah yang juga merupakan penulis buku Babad Dalem.

 

Ke-33 Tokoh Panglingsir Griya-Puri yang hadir adalah para tokoh Griya yang mumpuni dan paham akan seluk beluk perjalanan sejarah dimasing masing Griya, seperti Griya Gede Batutabih, Griya Intaran Tihingan, Griya Gede Bakas, Griya Telaga Banjarangkan, Griya Jumpung, Puri Gelgel, Puri Bakas, Griya Takmung, Griya Kawan Bendul, Griya Satria Kawan, Griya Satria Kangin, Griya Andakasa Dawan, Griya Dawan Klod, Griya Tusan, Griya Bajing, Griya Akah. Griya Cucukan, Griya Kediri Pekandelan, Griya Kediri Kaleran, Griya Kediri Kamasan, Griya Batutabih klod, Griya Tubuh Dawan, Griya Tegalwangi, Griya Gede Aan, Griya Kutuh Kamasan, Griya Nyalian, Puri Saraswati dan Puri Semaranegara.

 

Acara rembug Informal ini benar benar merupakan mengingatkan akan perjalanan sejarah yang terulang kembali, pertemuan seperti ini sudah lama tidak pernah dilaksanakan pasca kemerdekaan tahun 1945, bahkan sebagian besar para tokoh Griya dan ataupun tokoh Puri menyambut gembira pertemuan seperti ini bisa dilaksanakan. Bahkan ada inisitif agara pertemuan seperti bisa dilaksanakan secara rutin baik skala formal maupun informal.

 

Adapun maksud tujuan dari pertemuan rembug informal ini membicarakan banyak hal seperti, Merasakan bagaimana perjalanan sejarah hubungan Griya dan Puri pada masa lampau dijamanya bisa terulang kembali, Berkeinginan agar hubungan antara Griya dan Puri semakin erat dan kuat, Bagaimana persaudaraan yang sudah terjalin dimasa lampau bisa dirasakan kembali dimasa kini dan nanti.

 

Tjokorda Raka Putra dalam sambutannya sebagai tuan rumah menyampaikan ucapan banyak terima kasih atas kehadiran semeton Griya bisa kumpul bersama, dan juga disampaikan dalam Rembug Informal ini bisa menelorkan hasil hasil yang nyata bisa dipergunakan baik di Griya maupun Puri.

 

” Hasil dari pertemuan tersebut disepakati untuk membuat sebuah buku tentang perjalanan Sejarah Lelintihan dimasing masing Griya dan Puri, ” ujarnya.

 

Adapun pembuatan Narasi sejarah dimasing masing Griya-Puri agar melibatkan seluruh elemen griya-puri ditempat masing masing, Pembuatan perjalanan secarah ini akan menelorkan fakta data yang obyektif karena penulis dan penyusun adalah dari masing – masing elemen Griya dan Puri.

 

” Bilamana seluruh pembuat narasi sejarah ini bisa dibuat dan benar terwujud dalam sebuah tulisan buku, ini akan menjadi sebuah buku yang sangat bersejarah dan bahkan akan banyak orang akan berkeinginan memiliki buku ini, karena buku yang akan dibuat ini melibatkan seluruh elemen Griya dan Puri yang tahu secara jelas dan paham tentang bagaimana Griya atau Puri bisa ada dahulu dan kini,” tuturnya.

 

Sedangkan, waktu atau tahun kapan adanya, siapa saja tokohnya, kenapa ada disana dan untuk apa ada disana, apa saja mebuat ada disana. Dalam acara tersebut, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Udayana, Prof.A.A.Bagus Wirawan SU, turut memberikan masukan dalam kajian akedemis, bahwa Sejarah Hubungan antara Griya-Puri ini tidak lepas dari Sejarah Masa lalu, bagaimana kerajaan Gelgel berkuasa pada jaman itu. Beliau juga menekankan agar Mengangkat tema Kepemimpinan Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, penting artinya bagi lembaran sejarah Bali.

 

“Dari perspektif sejarah, kepemimpinan Gajah Mada dapat dikaji dari kehadiran tradisi besar Hindu Bali Gelgel sampai sekarang,” terangnya.

 

Telah banyak kajian tentang Majapahit dan telah banyak pula kajian arkeologi tentang situs-situs Majapahit, ternyata masih banyak masalah sejarah seputar kerajaan Hindu Budha terbesar di Jawa. Akan tetapi harus diakui bahwa dari perspektif Nusantara, masih terdapat sebuah dan satu-satunya kerajaan di Nusantara pelanjut tradisi Hindu Budha Majapahit yaitu kerajaan Gelgel Bali pad abad ke-14 dan ke-17 dan kerajaan-kerajaan di Bali pada abad-abad setelah Gelgel yaitu abad ke-18 dan ke-20.

 

“Bahkan hingga sekarang tradisi Hindu Budha Majapahit Gelgel masih tetap eksis dan dianut oleh sebagian besar pendidik etnik Bali,” jelasnya.

 

Begitu pentingnya peranan budaya Hindu Budha, singkatnya budaya Hindu Majapahit yang tumbuh subur dan dianut oleh orang-orang Bali Hindu hingga

sekarang mendorong untuk mengakat bahasan bertajuk Kepemimpinan Gajah Mada yang menyatukan pulau Bali ke dalam kesatuan geografis wilayah Nusantara pada masa kekuasaan kerajaan Hindu budha dibawah panji-panji Majapahit.

 

” Beberapa aspek tentang kepemimpinan Hindu Jawa Majapahit hingga tercetusnya sumpah Palapa untuk menyatukan kerajaan-kerajaan Jawa dan luar Jawa serta pewarisan nilai-nilai tradisi besar Hindu dapat diajukan, “jelasnya.

 

Dan kemudian, Bagaimana Konsep Kepemimpinan Hindu Majapahit dengan Asta Baratha, Konsep Persatuan dalam Sumpah Palapa Gajah Mada, Nilai-nilai Hindu: Hindu Jawa Majapahit sampai Hindu Bali Gelgel, Ada keberadaan hikmah yang dapat dipetik dari belajar masa lampau atau sejarah yang telah terpatri tentang kepemimpinan Mahapatih Hamengkubhumi Gajah Mada yang menjadi aktor utama untuk membawa kerajaan Majapahit mencapai puncak zaman kejayaan dan keemasannya. Kesuksesan mewjudukan isi sumpahnya.

 

“Amukti Palapa, Menyatukan daerah-daerah seluruh Nusantara di bawah kekuasaan pusat di Wilwatikta Majapahit dari sisi politik ketatanegaraan dan dari sisi budaya politik keagamaan yang bercorak Hindu Budha seperti dipesankan oleh penyair keraton (Rakawi) Mpu Tantular dalam syairnya Bhineka Tunggal Ika, Siwa lan Budha”, paparnya.

 

Dalam gubahan kakawin Sutasoma, Gajah Mada menanamkan keyakinan agama yang dibangun kerajaan Majapahit hingga ke daerah-daerah di Nusantara.Dari sisi budaya politik ketatanegaraan ditanamkan nilai-nilai yang harus dianut oleh raja yang berkuasa di kerajaannya. Nilai dan syarat-syarat yang dimiliki raja ideal ialah tahta yang dilandasi delapan butir nasihat Sri Rama kepada adiknya Bharata (Asta Bharata) yaitu, cerminan sifat-sifat delapan dewa dalam Hinduisme. Lebih penting dari hubungan politik ketatanegaraan pusat-daerah ialah hubungan kebudayaan: seni, sastra dan agama. Harta kekayaan budaya Jawa Majapahit.

 

“Banyak diwariskan kepada Raja Adipati Dalem Ketut Ngulesir. Utamanya warisan nilai-nilai Hinduisme yang menjadi keyakinan kawila kerajaan di Bali. Meskipun tidak sepenuhnya bercorak Bali, Hindu Budha adalah corak agama kerajaan Majapahit, “imbuhnya.

 

Akan tetapi, Setelah diwariskan menjadi Hindu Bali (Siwa Budha Bhujangga) Gelgel yang lestari hingga sekarang. Dalam bentuk pemujaan yang menyatukan catur warga di pura pemersatu Pura dasar Bhwana. Seyogyanya dapat dicatat dalam sejarah Gelgel, tempat dibangunnya keraton Swecapura pusat kekuasaan dan ibukota kerajaan Hindu serta Pura Dasar Bhuwana pusat pemujaan kerajaan Hindu.

 

” Kerajaan Hindu Bali Gelgel adalah satu-satunya kerajaan bercorak Hindu pewaris Hindu Budha Jawa Majapahit di Nusantara ketika proses gelombang islamisasi terjadi pusat pemujaan Hindu kerajaan bagi kerajaan Bali,”pungkasya.

Demikian pemaparan dan masukan dari Ajung Agung Wirawan Panggilannya, Acara tersebut bisa terlaksana berkat ide apik dari Ida Bagus Surya Wedanta yang sekaligus sebagai Sekretaris Dharma Prawerthi Sabha, Dharmopadesa Klungkung.

 

” Acara ini tak putus sampai disini, akan ada pertemuan lanjutan selanjutnya, agar pembuatan buku ini benar benar dan dipastikan bisa diwujudkan, bahkan seluruh tokoh Griya dan Puri sudah menyepakati agar tuntas, agar generasi berikutnya memiliki pegangan sejarah yang kuat, mengingat perkembangan teknologi yang semakin canggih diimbangi dengan pegangan sejarah juga semakin kuat, “tutupnya. (td/JP). 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button