BeritaDaerah

Arah Kade! Dibangun dengan Anggaran Milyaran Rupiah, Kondisi Rest Area Pengragoan Kumuh

 

JEMBRANA, jarrakposbali.com | Kondisi Rest Area Pengragoan yang berlkasi di Desa Pengragoan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, kondisinya sangat memprihatinkan.

Rest Area yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Jembrana I Putu Artha dan Wakilnya Made Kembang Hartawan, dengan anggaran milyaran rupiah kini komdisinya sangat jorok dan kumuh.

Pantauan redaksi jarrakposbali.com di lokasi tadi pagi, nampak sampah dedaunan dan sampah plastik berserakan di halaman parkir. Bukan hanya itu, disisi timur lokasi Rest Area, banyak tanaman merambat dan semak-semak tumbuh, dibiarkan meninggi.

Demikian halnya landasan parkir, kondisinya rusak parah. Banyak lobang di sana sini dan menimbulkan kubangan air lantaraan saat ini musim hujan. Kerusakan parah landasan parkir tersebut lantaran tiap hari truk-truk berukuran besar keluar masuk ke lokasi tersebut.

“Ini landasan parkir memang banyak yang berlobang karena yang masuk ke sini sebagian besar trek-trek besar. Apalagi saat ini musim hujan,” ujar salah seorang warga sempat yang kebetulan berjualan di lokasi tersebut, Selasa (15/2/2022)

Warga yang minta namanya tidak ditulis tersebut juga menerangkan, terkait ada tumbuhan merambat dan semak belukar yang tumbuh di sisi timur bagunan, itu karena lama tidak ada yang membersihkan dan dibiarkan tumbuh.

Selain lingkungan terlihat kotor dan kesannya kumuh, Rest Area itu juga tergolong sepi. Padahal dibangun dipinggir jalan raya nasiinal Denpasar-Gilimanuk, tepatnya di sisi selatan jalan raya.

“Yang berbelanja juga sepi, paling dalam sehari dapat penghasilan seratus ribu rupiah, kadang kurang. Apalagi banyak warung disini,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, anggota DPRD Jembrana Fraksi Gerindra asal Kecamatan Pekutatan Ketut Sadwi, dikonfirmasi redaksi mengagakan bahwa Rest Area tersebut oleh pemerintah daerah telah diserahkan pengelolaannya kepada Desa Adat setempat.

“Jadi bukan lagi ranah pemerintah daerah untuk melakukan penataan ataupun lainnya karena pengelolaannya ada di Desa Adat setempat,” ujarnya, Selasa (15/2/2022)

Karena telah diserahkan pengelolaannya kepada Desa Adat setempat, seharusnya Desa Adat bisa melakukan inovasi sehingga lokasi tersebut indah dan bersih. Jika sudah bersih dan indah tentutanya memancing minat banyak orang untuk beristirahat di tempat itu. Dengan demikian bisa menghasilkan untuk desa adat setempat.Sementara pihak Desa Adat setempat belum bisa dikonnfirmasi terkait hal tersebut.(ded)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button