Berita

Hampir Sebulan Pasca Bencana Banjir Bandang, Warga Terdampak Tak Kunjung Direlokasi

JEMBRANA, jarrakposbali.com ! Banjir bandang yang menerjang warga Lingkungan Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring dan Banyar Anyar Kelod, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana sudah hambir sebulan berlalu.

Namun sejumlah warga terdampak yang rumahnya hancur dan tidak bisa ditempati lagi, masih bertahan di lokasi. Mereka belum direlokasi ke tempat lain seperti rencana yang telah didengungkan pemerintah. Padahal warga mengaku trauma dengan bencana dahsyat tersebut.

Lurah Tegal Cangkring Gusti Ngurah Eka Armadi dikonfirmasi wartawan mengatakan, hingga saat ini warga yang diusulkan untuk direlokasi sedang tahap sosialisasi dan pendataan. Namun, untuk kunjungan ke lokasi relokasi masih menunggu petunjuk lebih lanjut.

Menurutnya, sejak wacana relokasi tersebut dicetuskan pemerintah, pihaknya langsung menurunkan tim untuk mengetahui keinginan warga secara langsung, apakah ingin direlokasi atau masih ingin tetap tinggal di tempat semula.

“Mereka yang tinggal di bagian timur atau dekat sungai Bilukpoh ingin direlokasi. Karena selain rumahnya hanyut, mereka juga trauma dengan kejadian ini atau istilahnya kapok tinggal di sana,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas PUPRPKP Jembrana, I Wayan Sudiarta mengatakan, terkait rencana relokasi, pihaknya masih berporses. Terutama untuk memantapkan lokasi lahan yang akan digunakan untuk relokasi.

“Jika di Kelurahan Tegal Cangkring, kita bisa manfaatkan tanah milik Pemprov Bali, yakni eks Kantor Perkebunan, dengan luas 20 are. Sedangkan di Penyaringan ada tanah Pemprov juga, tapi luasnya 1 hektare,” ungkapnya Selasa (08/11/2022).

Sudiarta mengakui, untuk anggaran rencana relokasi rumah warga tersebut sedang diupayakan atau diusulkan ke pusat atau BNPB. Rencananya, akan dibuatkan rumah dengan tipe 36.

“Nantinya tanah milik warga terdapak, kita tidak berikan lagi untuk dibagunin. Itu nanti dialihkan menjadi perkebunan atau persawahan. Sebab sebelum menjadi pemukiman, itu adalah lahan pertanian sawah,” tutupnya.(ded)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button