Berita

Dampak El Nino, Puluhan Banjar di Kabupaten Jembrana Alami Kekeringan

JEMBRANA, jarrakposbali.com ! Sejumlah wilayah di Kabupaten Jembrana belakangan ini mengalami kekeringan. Dari pendataan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ada 38 banjar mengalami kekeringan.

Banjar-banjar yang mengalami kekeringan tersebut terdapat di delapan desa dan dua kelurahan yang tersebar di empat kecamatan yang ada di bumi Makepung, Jembrana. Kondisi tersebut sebagai dampak dari El Nino.

Data yang dirilis BPBD Jembrana, di Kecamatan Melaya ada tujuh banjar di Desa Tukadaya dan lima banjar di Desa Manistutu yang mengalami kekeringan. Debit air di wilayah tersebut menurun. Kondisi tersebut membuat warga sekitar mengalami krisis air bersih lantaran warga tidak memiliki bak penampungan air induk.

Sedangkan di Kecamatan Negara ada enam banjar di Desa Berambang dan dua lingkungan di Kelurahan Baler Bale Agung mengalami kekeringan. Hal ini terjadi lantaran debit air mengalami penurunan.

Di Kecamatan Jembrana tercatat ada satu kelurahan dan dua desa yang rawan kekeringan. Yakni tiga lingkungan di Kelurahan Pendem, tiga banjar di Desa Batuagung, dan dua Banjar di Desa Dangin Tukadaya.

Sedangkan di Kecamatan Mendoyo, ada tiga desa yang mengalami kekeringan. Diantaranya, dua banjar di Desa Mendoyo Dauh Tukad, dan masing-masing empat banjar di Desa Pohsanten dan Desa Pergung.

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, data sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan tersebut terdapat di empat kecamatan. Sedang satu kecamatan lagi akan dilakukan pendataan kembali.

“Kami baru selesai melaksanakan pendataan di empat kecamatan. Nanti kami lakukan pendataan di satu kecamatan lagi,” terangnya, Kamis 24 Agustus 2023.

Untuk mengatasi krisis air bersih yang dialami warga akibat kekeringan, Agus Artana mengatakan, pihaknya telah merencanakan mengirimkan air bersih kepada warga di wilayah-wilayah yang dilanda kekeringan.

“Air bersih yang sudah kami distribusikan kepada warga baru sekitar dua puluh ribu liter. Air tersebut dipasok ke warga Kelurahan Pendem yang sudah merasakan kekeringan karena turunnya debit air,” ujarnya.

Sementara itu, informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak fenomena iklim El Nino yang akan memicu cuaca panas ekstrem di Indonesia terjadi sejak Agustus hingga Oktober 2023 dan akan berlanjut hingga awal 2024

El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.(ded)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button