Jatiluwih, Jiwa Budaya Tabanan yang Tak Boleh Terkikis Waktu
Ketua Fraksi PDIP DPRD Tabanan, I Putu Eka Putra Nurcahyadi, menegaskan pelestarian kawasan Warisan Budaya Dunia ini adalah harga mati, dengan penegakan aturan dan dukungan nyata bagi petani.

jarrakposbali.com, TABANAN – Hamparan sawah hijau terasering membentang bak permadani raksasa di lereng Penebel, Tabanan.
Inilah Jatiluwih, sebuah lanskap budaya yang bukan sekadar tujuan wisata, tetapi jiwa yang hidup dalam denyut nadi masyarakat Bali.
Di balik pemandangan yang memukau, tersimpan warisan sistem subak yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD).
Namun, di tengah pesona itu, ancaman nyata mengintai: alih fungsi lahan sawah lindung untuk akomodasi pariwisata.
Baru-baru ini, terungkap 13 bangunan yang berdiri tanpa izin di kawasan lindung.
Pelanggaran ini menjadi sorotan tajam DPRD Tabanan. Ketua Fraksi PDIP, I Putu Eka Putra Nurcahyadi, tegas menyatakan, “Jatiluwih bukan hanya destinasi wisata, tetapi jiwa budaya dan alam Tabanan. Menjaganya sama artinya menjaga identitas dan masa depan kita.”
Pemerintah daerah telah mengeluarkan 13 surat peringatan kepada pelaku pelanggaran dan menegakkan Perda Nomor 3 Tahun 2023 tentang RTRW.
Langkah ini bukan sekadar formalitas, tetapi sinyal kuat bahwa Tabanan menempatkan pelestarian sebagai prioritas.
Bagi Putu Eka Nurcahyadi, keberlanjutan Jatiluwih harus dibangun di atas keseimbangan, kemajuan pariwisata yang selaras dengan perlindungan alam.
Ia mendorong adanya insentif bagi petani, agar mereka tidak tergoda menjual lahan, melainkan terus merawatnya sebagai warisan leluhur yang menyimpan nilai ekologis dan kultural.
“Kami tidak menolak kemajuan, tetapi kemajuan harus berjalan seiring pelestarian,” ujarnya. “Jatiluwih harus menjadi contoh bagaimana pariwisata dan lingkungan dapat hidup berdampingan.”
Di bawah sinar senja yang menghangatkan terasering, kata-kata itu terasa seperti janji yang ingin ditepati.
Jatiluwih, dengan segala keelokan dan kearifannya, adalah amanah yang harus dijaga bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang.(jpbali).



