BeritaKlungkung

Melukat di Pura Manik Tirta, Jejak Kesunyian dari Desa Wisata Timuhun

SEMARAPURA, jarrakposbali.com – Pengalaman melukat di Pura Manik Tirta selalu menghadirkan suasana yang menempel lama dalam ingatan. Sejak memasuki kawasan desa wisata Timuhun, udara terasa lebih tenang. Pengunjung biasanya berhenti sejenak sebelum turun ke area tirta, seolah tubuh dan pikiran ingin menyesuaikan diri dengan keteduhan tempat ini.

Air manik yang mengalir jernih menjadi bagian awal dari prosesi. Kadang orang yang pertama kali datang merasa terbantu dengan ritme aliran air yang pelan. Setiap cipratan tirta memberi jeda untuk menata batin. Suasananya sederhana. Tidak ada hiruk pikuk, hanya gerak ritual yang terukur.

Menurut Wisnu Arimbawa, praktisi pariwisata Bali, “Yang menarik, rangkaian ritual tidak berhenti pada tirta utama. Ada tahapan lanjutan yang menggunakan tirta bungkak nyuh gading.”

Tirta dari kelapa muda itu menjadi simbol peleburan penyakit. Di banyak kasus, prosesi dilengkapi dengan daun dapdap. Masyarakat Timuhun mengenal daun ini sebagai kayu sakti. Penggunaannya sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Praktik yang terlihat sederhana ini sering membuat pengunjung merasa terhubung dengan tradisi lokal.

“Air dari kelapa muda ini dikenal sebagai simbol peleburan penyakit. Daun dapdap digunakan sebagai bagian dari tradisi setempat. Semua itu sudah berjalan turun-temurun,” jelas Wisnu, Senin 9 Februari 2026.

Akses menuju Pura Manik Tirta tergolong mudah. Letaknya tidak jauh dari pusat Semarapura sehingga perjalanan tidak terasa panjang. Warga Timuhun kerap menyambut dengan ramah. Banyak pemedek merasa dibantu oleh cara Jro Mangku melayani. Kadang keramahan itu dianggap sebagai bagian dari proses penyucian.

“Jro Mangku melayani dengan ketulusan yang membuat banyak orang merasa diterima. Keseluruhan suasana itu sering dianggap sebagai bagian dari proses penyucian itu sendiri,” tambah Wisnu.

Melukat di Pura Manik Tirta menjadi ruang jeda dari kesibukan. Pengalaman ini memberi kesempatan untuk kembali merasakan kehadiran diri. Desa wisata Timuhun menghadirkan perjalanan kecil yang sering kali berakhir pada ketenangan yang lebih utuh.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button