BeritaDenpasarKesehatan

Nyepi Tahun Baru Saka 1948, RSUP Prof. Ngoerah, Sunyi di Luar, Siaga di Dalam

DENPASAR, jarrakposbali.com – Di tengah suasana Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, ketika Bali perlahan memasuki keheningan, ada ruang-ruang yang tetap menjaga ritmenya. RSUP Prof. Ngoerah menjadi salah satu tempat di mana pelayanan tidak berhenti, meski suasana di luar berubah menjadi lebih tenang.

Sering kali Nyepi dimaknai sebagai jeda, waktu untuk menahan diri dan merefleksikan kehidupan. Namun di rumah sakit, jeda itu hadir dengan cara yang berbeda. Aktivitas memang tidak seramai hari biasa, tetapi kesiapan justru terasa lebih terjaga. Instalasi Gawat Darurat tetap menjadi titik utama pelayanan, menerima pasien selama 24 jam tanpa henti.

“Pada periode 18 hingga 22 Maret 2026, beberapa layanan seperti poliklinik rawat jalan, radioterapi, dan perjanjian memang dihentikan sementara,” ujar Direktur pelayanan medik dan keperawatan RS Ngoerah, Dr. dr. I Made Darmajaya, Sp.B, Sp.BA., Subsp.D.A(K)., MARS ,FIAPS.

Penyesuaian tersebut sudah menjadi bagian dari pola pelayanan setiap tahun. Masyarakat pun cenderung memahami ritme ini, karena layanan rutin akan kembali berjalan setelah hari raya usai. Di sisi lain, pelayanan yang bersifat mendesak tetap dijaga dengan standar yang sama seperti hari biasa.

“Instalasi Gawat Darurat tetap buka 24 jam untuk melayani kasus kegawatdaruratan,” lanjutnya.

Yang menarik, ada banyak aktivitas di balik layar yang tetap berjalan tanpa banyak sorotan. Instalasi gizi memastikan kebutuhan makan pasien dan petugas tetap terpenuhi. Persediaan obat-obatan juga disiapkan sejak awal, sehingga tidak ada kekosongan dalam pelayanan. Dalam banyak kasus, hal-hal seperti ini justru menjadi penopang utama keberlangsungan layanan kesehatan.

“Logistik dan kebutuhan pasien sudah kami siapkan sebelumnya, sehingga pelayanan tetap berjalan dengan baik selama Nyepi,” jelasnya.

Bagi pasien dengan kebutuhan terapi rutin seperti hemodialisis, penyesuaian jadwal menjadi langkah penting. Sebagian pasien menjalani tindakan lebih awal, sehingga terapi tetap berlanjut tanpa mengganggu rangkaian hari raya. Di banyak kasus, pendekatan seperti ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan medis dan kehidupan sosial masyarakat.

“Ini bagian dari upaya kami menyesuaikan layanan dengan kondisi masyarakat, tanpa mengurangi kualitas perawatan,” imbuhnya.

Pada akhirnya, suasana Nyepi di rumah sakit menghadirkan gambaran yang khas. Di luar, keheningan dijaga sebagai bagian dari tradisi. Di dalam, pelayanan tetap berjalan dengan tanggung jawab yang sama. Dalam ruang seperti ini, rumah sakit menjadi tempat yang menjaga kesinambungan antara nilai kemanusiaan, pelayanan, dan keselamatan.(JpBali).

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button